Lukisan Perempuan di Victoria Park

Pertemuanku dengan laki-laki paruh baya itu terjadi hampir sebulan lalu. Saat Minggu sore di Victoria Park, ia datang dengan membawa lukisan perempuan cantik berkulit sawo matang. Namun yang mengusik perhatianku, perempuan yang ada dilukisan itu selalu berbeda setiap minggunya.

*****

Sudah seminggu aku berada di Hongkong, namun tidak ada peristiwa menarik untuk kubuat laporan. Kejadian-kejadian yang kulihat selama berkeliling Hongkong bukan hal fantastis dan unik yang menurutku pantas dijadikan laporan. Apalagi majalah bulanan tempatku bekerja menjadi nomor satu di Indonesia. Kualitas laporan dan tulisan harus tetap yang utama.

Minggu lalu, aku ditugaskan menjadi koresponden di Hongkong menggantikan rekanku yang keluar. Pemilihan diriku di tempat ini hanya karena aku pandai berbahasa Mandarin dan lama menghabiskan waktu di sini. Tapi, itu dulu, saat aku bayi sampai berumur enam tahun. Ingatanku tentang Hongkong sudah kabur tergerus waktu.

Di Hongkong, aku tinggal dengan menyewa apartemen di dekat pusat kota. Sendirian dan itu membuatku kesepian. Sampai akhirnya, saat berbelanja di minimarket lobi, aku berpapasan dengan seorang WNI. Surti, nama perempuan 21 tahun itu. Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang penduduk lokal.

Di waktu liburnya, aku mengajak Surti berkeliling. Meskipun ia juga baru di sini enam bulan tapi minimal ia sedikit lebih tahu Hongkong dibanding diriku.

“Kenapa kamu mau bekerja di sini? Kan, jauh dari kampung halaman?” tanyaku. Ketika itu kami sedang menikmati Minggu sore di Victoria Park.

Wong di kampung nyari kerja susah, Mbak. Apalagi saya cuma punya ijazah SD.”

“Kenapa enggak buat usaha saja. Kamu, kan, pintar masak?”

Surti menggeleng, katanya, “ndak ada modal.”

Aku tersenyum miris

“Lagipula, kerja di luar negeri enak, gajinya gede,” ucapnya lagi sambil tersenyum.

“Kamu enggak takut disiksa majikan? Kan, banyak kasus PRT yang sering dianiaya majikan. Bahkan sampai ada yang meninggal.”

“Takut sih, tapi mau bagaimana lagi. Adik saya lima dan masih kecil-kecil. Sementara bapak saya cuma buruh tani.”

Kami sama-sama terdiam. Surti mungkin sedang membayangkan adik-adik kecilnya di kampung. Tawa riang adiknya ketika bermain. Senyum bahagia orangtuanya takala uang kirimannya sampai. Perasaan sederhana itu pasti berharga bagi Surti.

“Mbak, lihat, orangnya sudah datang,” katanya tiba-tiba sambil menarik tanganku.

Orang siapa? Aku tidak sedang menunggu siapa-siapa. Kulirik kanan kiriku, tidak ada seorang pun yang kukenal. Meskipun, aku yakin kalau sebagian besar orang-orang di taman ini adalah tenaga kerja Indonesia yang sedang menghabiskan waktu liburannya.

“Wah, beruntungnya perempuan yang ada di lukisan itu,” kata Surti terkagum-kagum.

Mencari jawaban, mataku mencoba mengikuti arah pandang Surti. Terlihat seorang lelaki bermata sipit membawa lukisan perempuan. Kedatangannya yang tiba-tiba menimbulkan perhatian di sekelilingnya. Orang-orang langsung mengerumuninya, termasuk aku karena ditarik Surti.

“Siapa dia?” tanyaku seraya berbisik di dekat telinga Surti.

“Ndak tahu. Setiap minggu sore dia ke sini sambil bawa lukisan perempuan.”

“Kamu kenal perempuan yang ada di lukisan itu?”

Surti menggeleng dengan matanya tetap memperhatikan lukisan itu dengan kagum.

“Temanmu juga enggak ada yang kenal?”

“Ndak.”

Penasaran, kakiku maju mendekat ke arah lukisan itu. Mataku memperhatikan dengan lekat sosok perempuan itu. Wajah cantiknya, kulit sawo mata, dan mata yang memandang ke depan. Rasanya tidak ada yang aneh. Pikirku, tapi pasti hal lain yang membuat perempuan itu dilukis. Kuperhatikan sekali lagi. Sampai mata kami bertemu. Bola mata hitam itu. Rasa-rasanya seperti tatapan ketakutan.

“Mbak, sudah sore. Ayo pulang.”

Aku mengakhiri minggu pertamaku di Victoria Park dengan pertanyaan yang mengganjal di hati.

Minggu berikutnya, Surti tidak bisa ikut menemaniku. Praktis, aku sendiri menikmati Minggu sore Victoria Park. Laki-laki itu tetap datang dengan lukisan perempuan yang berbeda-beda. Sorotan perempuan di lukisan itu tetap menyiratkan ketakukan akan suatu hal.

Minggu selanjutnya, aku melihat sosok Surti yang ada di lukisan itu.

*****

Laporan dari Hongkong

Kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia khususnya wanita kembali terjadi di Hongkong. Kali ini menimpa seorang asisten rumah tangga bernama Surti (21). Ia diperkosa oleh anak majikannya. Diduga karena takut ketahuan, tersangka langsung membunuh Surti setelah memperkosanya. Sampai berita ini diturunkan, tersangka masih belum ditahan karena adanya jaminan dari pihak keluarga.* Tania Subagio

*****

Tulisan ini menjadi 7 naskah terpuji dalam lomba oleh FAM Indonesia

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. sarahabdat says:

    Cerpen ini begitu menarik. Sulit untuk ditebak alurnya, tetapi bahasanya mudah dipahami. Awal-awal saya membacanya memang masih tidak mengerti, tetapi saat sudah selesai saya baru memahaminya yang ternyata didalamnya mengandung unsur pembunuhan.
    Jika dari kutipan berikut,
    “Sampai mata kami bertemu. Bola mata hitam itu. Rasa-rasanya seperti tatapan ketakutan.”
    Sudah terlihat jelas akan menimbulkan sebuah konflik.
    Menurut saya, cerpen ini masih terasa mengganjal mengingat sosok pembunuh tersebut yang tidak diketahui identitasnya.

    Sarah Hasan.

  2. rinalvianizaldi says:

    Dari judul cerpen saya mengira bahwa cerpen ini mengangkat cerita percintaan tentang seorang perempuan yang dilukis oleh kekasihnya karena perempuannya sudah tiada, ternyata dugaan saya salah 100%. Isi cerita dari cerpen ini sangat berbanding jauh dari apa yang saya pikirkan, ternyata cerpen ini mengangkat kisah tragis tentang penyiksaan WNI di negeri orang, lukisan perempuan berbeda yang dibawa oleh lelaki setiap Minggu Sore itu adalah korban dari penyiksaan WNI di Hongkong. Dari Sosok Surti saya bisa mengetahui bahwa lukisan perempuan yang dibawa oleh lelaki itu adalah korban korban penyiksaan WNI oleh majikannya, Surti tidak menjelaskannya dalam cerita ini tetapi kejadian tragis yang menimpa Surti diakhir cerita dari cerpen ini. Di awal cerita Surti beranggapan bahwa perempuan berbeda yang berada dalam lukisan itu sangat beruntung, karena Surti tidak mengetahui bahwa perempuan di lukisan itu adalah korban penyiksaan, tetapi pada akhirnya justru dia yang berada di lukisan itu. Cerpen yang sangat menarik dan unik sekali untuk dibaca karena isi dari cerita ini berkesan untuk yang membacanya dan bahasa yang ringan sehingga mudah sekali untuk dipahami.

    Rinalviani Zaldi

  3. Cerita ini menegangkan menjelaskan tentang tki yg bekerja di hongkong yg kemudian diperkosa oleh majikannya lalu dibunuh yg lebih menarik adalah lukisan yg dibuat oleh lelaki itu membuat tanda tanya bagi yg melihatnya ternyata setiap lukisan wanita yg berbeda itu wanita yg terbunuh oleh majikannya

  4. Siti Rohmah says:

    Cerita ini sangat unik,penulisan bahasa nya pun tidak terlalu sulit untuk dimengerti,lukisan yang berbeda tiap minggu menandakan bahwa begitu banyak kekerasan yang dilakukan majikan kepada para TKI. Sebelum membaca dengan teliti,cerita ini memang sedikit sulit untuk dipahami karena sedikit menggantung pada bagian akhir,namun setelah dibaca ulang saya baru memahami maksud dari cerpen ini.

  5. Rosmita Nurmeyla X-AP 3 says:

    Judul cerita ini sangat menarik, sehingga membuat saya penasaran akan jalan cerita dari cerpen ini. Cerpen yang berjudul “Lukisan Perempuan Di Victoria Park” ini ternayata bercerita tentang kasus penyiksaan dan pembunuhan beberapa wanita yang tinggal di Hongkong.
    Cerita ini penuh dengan misteri, karena perempuan yang berada disetiap lukisan yang dibawa oleh lelaki bermata sipit itu mengundang banyak pertanyaan dari beberapa orang. Seperti yang dipikirkan oleh tokoh “Aku” ada hal lain yang membuat wanita itu dilukis.
    Akhir dari cerita tersebut juga sedikit menggantung. Karena pembaca tidak mengetahui bagaimana reaksi tokoh “Aku” setelah mengetahui bahwa wanita yang baru dikenalnya ,yaitu Surti ada dalam lukisan tersebut. Dan Surti juga dilaporkan meninggal karena diperkosa lalu dibunuh oĺeh anak majikannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s