Menanamkan Pendidikan Karakter

Penyerangan lapas Cebongan di Sleman dan kerusahan di Palopo, Sulawesi Selatan, menunjukkan betapa hancurnya nilai kemanusiaan negeri ini. Indonesia telah kehilangan jati dirinya. Padahal, dunia mengenal Bumi Pertiwi sebagai negara berbudi pekerti dengan keramahan masyarakatnya. Lalu, di manakah warisan nenek moyang yang berharga itu?

Jika diamati, penyelesaian masalah dengan kekerasan seperti sudah menjadi gaya hidup bagi masyarakat saat ini. Akal sehat tidak lagi digunakan. Sebagai gantinya, emosi menjadi satu-satunya jalan keluar.

Lebih cermat melihat kekerasan yang semakin menjadi hal lumrah di berbagai wilayah Indonesia, saya menyadari kalau masyarakat saat ini kurang pendidikan karakter. Pelajaran yang diajarkan di lembaga pendidikan hanya seputar teori-teori akhlak baik. Tapi, tidak ada kurikulum yang mengajarkan bagaimana akhlak baik itu dapat ditanamkan ke dalam diri anak didik sehingga mereka dapat mengaplikasikannya ke kehidupan nyata.

Contoh dapat diambil dalam sebuah sekolah dasar. Ketika ada seorang murid mengadu pada gurunya kalau ia telah dipukul oleh teman sebangkunya, maka guru tersebut sering menyuruh muridnya untuk membalas memukulnya. Alasanya supaya adil. Tapi, tanpa disadari kalau prilaku guru tersebut dapat menanamkan pendidikan kekerasan pada anak didiknya. Mereka akan berfikir kalau sebuah tindak kekerasan baru akan selesai jika dibalas dengan kekerasan pula. Jarang ada guru yang menyuruh anak untuk meminta maaf serta mengakui kesalahannya, kemudian memberi penjelasan kepada anak yang lain untuk mau memafkan kesalahan orang lain.

Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan harus bisa mengupayakan penanaman pendidikan karakter mulai dari lembaga pendidikan terkecil yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Jika sejak dini anak sudah diberikan fondasi karakter yang baik, tentu faktor lingkungan tidak akan terlalu berpengaruh pada dirinya. Diibaratkan seperti sebuah bangunan kokoh, meski diterpa angin kencang tentu tetap tidak akan roboh.

Guru sebagai orangtua anak di sekolah harus diberi pelatihan matang dalam nantinya mengajarkan pendidikan karakter. Pelatihan guru dalam menghadapi kurikulum 2013 yang disuarakan Mendikbud, Mohammad Nuh, seharusnya menjadi ajang mengenalkan kembali pendidikan karakter pada para pendidik. Materi agama dan kewarganegaraan yang lebih banyak dari kurikulum sebelumnya, dapat dimanfaatkan guru untuk menumbuhkan benih karakter baik dalam diri anak.

Selain itu, keluarga tetap menjadi lingkungan pertama yang harus mengenalkan anak pada pendidikan karakter. Orangtua sebagai manusia pertama yang dikenal anak tentu akan menjadi simbol percontohan. Karena anak akan meniru sikap yang dilakukan kedua orangtuanya, maka ayah-ibu haruslah berusaha bersikap sesempurna mungkin di mata anak.

Jika semua itu dapat diberikan pada generasi muda, tentu tidak ada lagi kekerasan frontal seperti saat ini. Karena, akhlak baik telah tertanam dalam diri masyarakat seperti layaknya hembusan nafas. Tentunya tanpa disadari mereka akan bertindak tanpa kekerasan karena itu yang dulu telah dibiasakan oleh keluarga dan lingkungan pendidikan mereka.

Artikel ini pernah dimuat di rubrik Poros Mahasiswa Koran SINDO pada 13 April 2013

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. Saya setuju dengan artikel ini, karena pendidikan karakter harus ditanamkan pada setiap orang sejak dini. Dengan karakter yang baik akan tercipta kehidupan yang aman dan nyaman tanpa kekerasan. Kelak apabila terjadi suatu konflik kita dapat menyelesaikannya dengan baik-baik tanpa adanya kekerasan. Menurut saya, karakter seseorang merupakan salah satu kunci kehidupan.

  2. Saya sangat setuju dengan artikel ini. Karena jika kita ingin menyelesaikan suatu masalah, tidak perlu dengan kekerasan. Terlebih dahulu, kita harus memakai akal sehat kita untuk menyelesaikannya. Karena yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal. Allah memberikan kita akal untuk berfikir mana yang baik dan tidak. Jika kita selalu bertindak dengan kekerasan, itu sama saja kita seperti hewan yang selalu membalas lawannya dengan kekerasan. Tanamkanlah karakter baik sejak dini.

  3. Saya sangat setuju jika pendidikan karakter dimulai dari usia dini. Karena pada saat tersebut otak bisa berkembang hingga 80 persen. Perkembangan fisik,mental maupun spiritual akan mulai terbentuk. Pengaruh lingkungan juga mampu merubah kepribadian seseorang dan kekerasan bukan satu-satunya jalan keluar dari setiap masalah. Terimakasih..

  4. Nur Aristia says:

    saya sangat setuju dengan artikel ini, penanaman perilaku yang baik tidak harus dari guru saja melainkan dari orang tau juga. jika orang tua dan pendidikan-nya menanamkan sikap yang yang baik akan tertanam sikap yang baik pula, begitu juga sebaliknya jika orang tua dan pendidikan-nya menanamkan perilaku buruk maka akan tertanam sikap yang buruk. jadi kita harus menanamkan sikap dan akhlak yang baik mulai dari sejak dini . dan tindakan kekerasan juga dapat di hindari.
    Terima Kasih..

  5. Nur Aristia says:

    saya sangat setuju dengan artikel ini karena penanaman sikap yang baik tidak harus dari guru saja melainkan juga dari orang tua. jika orang tua dan pendidikan-nya menanamkan perilaku yang baik akan tertanam sikap yang baik, tetapi sebaliknya jika orang tua dan pendidikan-nya menanamkan perilaku yang buruk maka akan tertanam sikap yang buruk pula. jadi orang tua dan pendidikan harus menanamkan perilaku yang baik sejak dini agar sikap dan perilaku tertanam dalam diri masyarakat.
    Terima Kasih..

  6. ygbener says:

    Saya sangat setuju dengan artikel ini. Pendidikan karakter memang harus dilakukan sejak dini dan harus terus diawasi oleh orang tua dari anak itu sendiri. Jika terjadi suatu masalah sebaiknya dibicarakan secara baik-baik dan tidak bersikap anarkis karena orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan amarahnya ketika dia marah.

  7. Saya sangat setuju dengan kalimat, “Orangtua sebagai manusia pertama yang dikenal anak tentu akan menjadi simbol percontohan”. Menurut saya, selain memberikan nasehat yang baik, orangtua juga perlu memberikan contoh yang baik. Anak usia dini, akan lebih mudah mengikuti dan meniru perbuatan orangtuanya ketimbang nasihatnya. Tapi, bukan berarti nasehat itu tidak penting. Akan sangat baik ketika memberikan nasehat, disertai pula dengan perbuatan. Jika anak melakukan kesalahan, kebanyakan orangtua akan memukul atau mencubit, bahkan terkadang, mengeluarkan perkataan yang tidak baik untuk anaknya. Hal itu akan memberi pengaruh buruk bagi si anak dimasa mendatang. Sebaiknya, jika anak melakukan kesalahan, jangan membentak, nasihatilah kemudian berikan contoh yang benar pada si anak. Dengan begitu, pendidikan karakter yang baik, akan lebih mudah ditanamkan pada anak.

  8. Setelah saya membaca artikel ini, saya setuju bahwa penanaman pendidikan karakter di usia dini akan sangat berpengaruh pada usia nya ketika dewasa nanti. Jika pada usia dini seorang anak selalu diajarkan berbuat kebaikan, inshaallah sampai ia dewasa akan tetap berbuat seperti itu. Terkadang pembentukan karakter pada seseorang bisa di pengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar, maka dari itu kita harus berhati-hati dalam menjalankan kehidupan di lingkungan sekitar.

  9. ahmadfarhan says:

    Saya setuju dengan artikel ini. Memang mengajarkan budi pekerti yang baik tidak semudah membalikkan tangan dan secepat umur jagung. Penanaman karakter yang baik harus di ajarkan sejak dini dan butuh proses yang bertahap, seperti menanam tanaman yang harus di siram dan di beri pupuk setiap harinya. Selanjutnya peran orang tua dan lingkungan sekitar menjadi hasil akhir dari penanaman karakter tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s