Pendidikan bagi Pendidik

Dalam sebuah lagu nasional, guru disebut pelita dalam kegelapan. Kehadirannya laksana oase bagi orang-orang yang haus akan ilmu. Hasil kinerjanya adalah pengaruh bagi kemajuan negeri ini. Namun saat ini, ada hal penting yang hilang dari sosok mulia itu.

Ketika modernisasi menuntut seseorang untuk terampil secara akademis, guru pun dituntut untuk menyampaikan materi ilmu pengetahuan saja. Mereka seolah lupa dengan hakikat sekolah sebagai lembaga pendidikan. Bahwa di sekolah, tugas seorang guru tidak hanya mengajar saja tapi juga mendidik.

Hasilnya? Banyak orang yang pandai dan ahli dalam ilmu pengetahuan tentang dunia. Namun, semakin terlihat kemiskinan mereka akan kecerdasan akhlak. Mereka yang kaya ilmu namun miskin budi pekerti justru membuat negeri ini semakin hancur. Korupsi, perkelahian, dan keserakan justru menjadi semacam jati diri baru negeri ini.

Bila dicermati, akar dari kerusakan itu adalah pendidikan yang salah. Konteks sekolah yang melenceng menjadi pengajaran tanpa berbasis pendidikan membuat rohani peserta didik tidak terjamah. Akibatnya, moral tidak lagi penting. Ilmu pengetahuan menjadi hal yang begitu diagungkan.

Contoh dapat diambil di sebuah sekolah. Sudah menjadi hal lumrah di negeri ini bila kesuksesan hasil belajar hanya mengarah pada nilai materi pelajaran saja. Oleh karena itu, guru berusaha untuk membuat murid-muridnya mengerti akan materi tersebut sehingga lupa dengan materi lain. Sistem ujian tertulis hanya mengarah pada satu tujuan yaitu mendapatkan nilai tinggi. Ini menjadi tidak masalah bila nilai tinggi tersebut didapat dari hasil menyontek. Karena, yang diutamakan adalah hasil, tanpa proses. Seperti sepakbola, tidak perlu bermain cantik karena yang terpenting adalah jumlah gol.

Hal tersebut bisa juga terjadi karena tuntutan orangtua murid. Bila dahulu orangtua akan memarahi sang anak bila nilai ujian mereka rendah, sekarang justru sebaliknya. Guru lah yang dijadikan sasaran akibat hancurnya nilai sang anak. Wibawa dan rasa hormat terhadap guru telah hilang.

Untuk itu, Departemen Pendidikan sebagai lembaga terkait sudah seharusnya mengembalikan lagi hakikat sekolah dan pendidikan di Indonesia. Caranya, dengan memberikan pendidikan bagi guru dan calon guru. Dengan mengedepankan proses ketimbang hasil, maka guru selalu berupaya untuk menanamkan pendidikan pada anak. Sehingga, anak murid tidak hanya diajar tapi juga dididik.

Model pendidikan bagi calon pendidik bisa diberikan di fakultas-fakultas keguruan di berbagai universitas. Ini bertujuan untuk membentuk karakter calon guru dalam mendidik anak didik mereka. Sehingga, orang tidak bisa lagi dengan mudah menjadi seorang guru. Penguasaan ilmu pelajaran bukan lagi faktor utama dalam membentuk seseorang menjadi guru. Karena, sekolah bukanlah tempat les belajar yang mengejar meteri ketimbang pendidikan moral. Lebih dari itu, sekolah adalah tempat mulia yang membentuk karakter dan moral seseorang menjadi lebih baik.

Artikel ini pernah dimuat di rubrik Poros Mahasiswa Koran SINDO pada 8 Juli 2013

Advertisements

8 Comments Add yours

  1. saya setuju dengan pernyataan dari departemen pendidikan, bahwa cara memberikan pendidikan bagi guru dan calon guru lebih mengedepankan proses ketimbang hasil. Hampir rata rata dari semua sekolah di Tanah Air lebih mengutaman hasil akhir daripada proses, banyak sekolah yang lebih mengutamakan menyotek daripada berfikir. Hal menyontek dalam dunia sekolah sudah menjadi tradisi turun menurut yang masih terjaga rapih hingga sekarang.

  2. Saya setuju dengan pendapat “Sekolah adalah tempat mulia yang membentuk karakter dan moral seseorang menjadi lebih baik”
    Menurut saya salah satu tujuan sekolah adalah, untuk berpikir lebih cerdas dari yang tidak bersekolah. Namun banyak sekali saat ini siswa-siswi yang mempunyai akhlak kurang baik. Mungkin itu terjadi karena mereka terlalu lelah akibat sortiran kurikulum saat ini yang mana membuat mereka semakin malas, bosan serta penat. Hal itu dapat mengurangi tingkat kecerdasan yang sebenarnya ada pada diri mereka. Melakukan kewajiban tanpa diberikan hak yang sesuai sebagai seorang pelajar.

  3. Monica Sari says:

    sebuah artikel yang berjudul “Pendidikan bagi Pendidik” saya sangat setuju dengan artikel ini. Sekolah harus mengedepankan proses dibanding hasil. Karena ada pepatah bilang “proses tidak pernah menghianati Hasil” ya! saya sangat setuju dgn artikel ini. Artikel ini memberi bukti bahwa setiap siswa yg nilai nya tinggi, belum tentu mereka pintar. Bagi mereka yg nilainya rendah belum tentu juga mereka bodoh. Saran saya artikel ini kalau bisa dijadikan cerpen dan di print di sebar ke setiap sekolah. Agar masyarakat sekolah paham akan pentingnya “proses”. Guru juga seharusnya tidak perlu terpaku dgn Nilai. Karna nilai ulangan ataupun nilai tugas, belum tentu mereka murni mengerjakan sendiri. Kalau saya ambil inti dari artikel ini, artikel ini menyinggung kurtilas(kurikulum 2013). Banyak siswa yg tidak respect dgn kurtilas ini. Katanya mengedepankan `Akhlak` tp buktinya hanya mengedepankan nilai dan hasil. Indonesia terlalu banyak berangan angan siswa/i harus sama seperti di luar negeri. Wahai bpk ibu guru, di luar negeri itu siswa hanya dituntut dan di test di dalam satu mata pelajaran, contoh nya jika ia minat&ia mampu di pelajaran ipa, maka ia harus memperdalam pelajaran ipa. Hasilnya akan banyak dokter yg hebat hebat. Sedangkan ini di indonesia siswa/i nya dituntut harus menguasai seluruh pelajaran yg ada di kurikulum. Hasilnya adalah semua siswa/i stres memikirkan pelajaran, akibatnya mereka memakai obat2an terlarang agar tidak stres, dan tidak ada generasi penerus yg pikirannya masih berfungsi dgn baik. Semoga banyak yg membaca artikel ini, terutama guru guru di Indonesia. Aamiinn

  4. Saya setuju dengan artikel ini. Karena hampir semua sekolah di Indonesia lebih mengedepankan hasil daripada proses. Para murid dituntut untuk mendapatkan hasil terbaik tapi tidak peduli darimana mereka mendapatkan hasil tersebut. Contohnya pada saat mendekati ujian nasional para murid lebih memilih untuk membeli kunci jawaban daripada belajar agar mendapatkan nilai terbaik. Seandainya para guru mengerti dan tidak menuntut murid agar mendapatkan hasil terbaik, mereka pun sebagai murid tidak akan merasa takut apabila mendapatkan nilai rendah. Melainkan sebaliknya, mereka akan terus berusaha memperbaiki nilai mereka agar mendapatkan nilai terbaik. Seperti yang dikutip dari film 3 idiot “kami akan belajar dengan giat dan penuh dedikasi, tapi bukan hanya untuk lulus ujian”.
    Terimakasih

  5. Saya setuju dengan artikel ini. Karena hampir semua sekolah di Indonesia lebih mengedepankan hasil daripada proses. Para murid dituntut untuk mendapatkan hasil terbaik tapi tidak peduli darimana mereka mendapatkan hasil tersebut. Contohnya pada saat mendekati ujian nasional para murid lebih memilih untuk membeli kunci jawaban daripada belajar agar mendapatkan nilai yang terbaik. Seandainya para guru mengerti dan tidak menuntut murid untuk mendapatkan hasil terbaik, mereka pun sebagai murid tidak akan merasa takut apabila mendapatkan nilai yang rendah. Melainkan mereka akan terus berusaha memperbaiki nilai mereka agar mendapatkan nilai terbaik. Seperti yang dikutip dari film 3 idiot “kami akan belajar dengan giat dan penuh dedikasi, tapi bukan hanya untuk lulus ujian”.

  6. Akhirnya siswa akan memilih jalan yang salah seperti menyontek. Karena yang terpenting bagi siswa adalah hasilnya, bukan prosesnya. Hal itu juga didorong oleh orang tua yang selalu ingin anaknya mendapatkan nilai tinggi tanpa melihat kemampuan anaknya. Alhasil, kondisi psikis siswa akan tertekan dan akan bertambah buruk apabila tidak ada bimbingan moral disekolah atau dimanapun. Dan akan mengubah pola pikir masyarakat bahwa nilai tinggi lebih penting daripada kemampuan. Pada kenyataannya, nilai tinggi bukanlah jaminan untuk menjadi sukses di dunia kerja atau bisnis, tetapi kemampuan, kerja keras dan doa lah yang menjadi kunci untuk meraih keberhasilan dimasa yang akan datang.

  7. syifayuniar says:

    Saya setuju dengan pendidikan bagi pendidik ini. Karna tugas guru sebenarnya adalah untuk mendidik anak muridnya supaya memiliki akhlak mulia dan juga pikiran yang cerdas.Kalau guru zaman sekarang mengedepankan nilai , nilai belum tentu hasil kerja murid itu sendiri , kunci jawaban UN setiap tahun saja terus beredar. Saya juga sering mendengar omongan guru “kalau bandel tapi pintar ya gapapa” itu menurut saya kurang benar karna jika dia telah memasuki dunia kerja dan sifat bandelnya itu masih dipertahankan bisa merusak bangsa&negara.Jadi kalau sekolah lebih mengedepankan nilai maka yang akan terjadi para penerus bangsa kita kurang memiliki akhlak yang mulia dan budi pekerti.

  8. Saya setuju dengan artikel ini. Memang sistem pendidikan jaman sekarang itu lebih mengedepankan materi dan nilai daripada akhlak. Hal itu membuat para murid tertekan karena selali dituntut untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Akhirnya siswa akan memilih jalan yang salah seperti menyontek. Karena yang terpenting bagi siswa adalah hasilnya, bukan prosesnya. Hal itu juga didorong oleh orang tua yang selalu ingin anaknya mendapatkan nilai tinggi tanpa melihat kemampuan anaknya. Alhasil, kondisi psikis siswa akan tertekan dan akan bertambah buruk apabila tidak ada bimbingan moral disekolah atau dimanapun. Dan akan mengubah pola pikir masyarakat bahwa nilai tinggi lebih penting daripada kemampuan. Pada kenyataannya, nilai tinggi bukanlah jaminan untuk menjadi sukses di dunia kerja atau bisnis, tetapi kemampuan, kerja keras dan doa lah yang menjadi kunci untuk meraih keberhasilan dimasa yang akan datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s