Senyuman Bus Kota

Senyum itu kembali hadir dalam perjalanan pulang sekolahku. Kembali di atas angkutan kota yang biasa kunaiki. Dia hadir dengan senyumnya yang mampu membuat hatiku tersenyum.

Siang hari, Jalan Gatot Subroto Jakarta tidak menunjukan kelancaran, sehingga angkutan yang kunaiki tersendat. Hal itu terkadang membuatku mengumpat dalam hati. Entah siapa sebenarnya yang semestinya kusalahkan. Supir angkut yang memilih jalan ini? Para pengguna mobil pribadi yang banyaknya melebihi luas jalan? Para pengusaha karena salah menaruh gedung perkantoran mereka? Atau pejabat zaman dahulu yang salah meletakan ibukota di kota yang sempit ini. Hingga kusadari kalau umpatanku sebenarnya tidak berpengaruh apa–apa terhadap perubahan jalan ini. Jalan Gatot Subroto masih dan sepertinya akan terus mengalami kemacetan.

Di kawasan Slipi, bus besar jurusan Grogol–Kampung Melayu biasa berhenti untuk menambah penumpang mereka. Kondektur akan berteriak untuk menarik hati calon penumpang. Sesekali matanya melirik ke seberang jalan, mengawasi polisi yang menjadi musuh mereka. Sementara sang supir biasanya merokok sambil membaca koran. Saat banyak penumpang naik, mulailah kondektur berteriak untuk mengatur penumpang. Ia akan meneriakan “geser-geser”, atau “kanan-kiri”. Tidak peduli dengan gerutuan penumpang yang sudah merasa terdesak dengan kehadiran penumpang lain. Terus saja seperti itu seolah masih banyak tempat di dalamnya, karena sang supir baru menjalankan busnya kalau polisi sudah terlihat mendekatinya.

Aku selalu beruntung karena naik dari Grogol sehingga hampir setiap hari selalu mendapat tempat duduk, jadi tidak merasakan desak-desakan. Hanya ketika melihat wanita hamil atau seorang nenek yang membuatku rela menggantikan posisi mereka.

Di sana juga ada seorang lelaki yang biasa mencari nafkah di atas bus itu. Banyak orang menyebutnya seniman jalanan. Mereka menyanyi bagai seorang seniman, dan mereka menyanyi di jalanan bukan di panggung. Itu pikiranku mengenai alasan kenapa masyarakat menamakan mereka seniman jalanan.

Senyumnya menjadi pembuka aksi di atas bus. Kaus berwarna merah marun dengan jins yang sudah lusuh melekat erat di tubuhnya. Seolah menggambarkan kalau pakaian ini sudah lama dibelinya dari toko. Rambut gondrongnya dibiarkannya terurai dengan berantakan. Membuatku dan siapa saja yang melihatnya tidak menyangka kalau dia baru berusia belasan tahun.

“Selamat siang Om, Tante, Kakak. Maaf kami mengganggu perjalanan anda.” Ucapan yang sering kudengar dari bibirnya dan pengamen lainnya saat memulai aksi “panggung” mereka. Perkataan yang sering kusalahkan. Kata kami yang ia gunakan, tidak cocok. Ia seorang diri, seharusnya menggunakan kata aku atau saya, bukan kami. Tapi maklumlah, namanya juga pengamen. Tidak pernah ia menemui pelajaran tentang penggunaan kata dalam kehidupannya. Kemudian pengamen itu kembali melanjutkan. “Sebuah lagu dari band Kerispatih, Aku Harus Jujur,” kali ini suaranya terdengar seperti seorang penyiar radio yang akan memutar sebuah lagu permintaan pendengarnya.

“Maafkan kali ini, aku harus jujur,” kalimat itu muncul dari bibirnya diiringi oleh petikan gitar. Jadilah perpaduan dua hal yang berbeda itu menjadi sebuah lagu yang enak didengarkan. Ini bukan soal aku seorang mahapatih, sebutan fans untuk kerispatih. Aku menyukainya karena memang suaranya pantas untuk didengarkan oleh banyak orang.

“Cinta dalam hati dari Ungu menjadi lagu kedua kita,” katanya lagi sebelum kembali memainkan gitar dan bibirnya. Aku benar, suaranya memang indah. Aku bukan Cliquers, tapi aku menikmati lagunya. Jadi ini bukan soal lagu siapa yang dibawakannya, tapi siapa yang membawakan lagu itu.

Hingga lagu yang ketiga, aku masih terus memperhatikannya. Dan akhirnya aku tersadar saat pengamen itu selesai bernyanyi. Kurogoh kantung bajuku untuk menarik keluar selembar uang seribu rupiah.

*****

Bus itu kembali berhenti cukup lama di kawasan Slipi. Karena saat ini hari libur, jadi tidak banyak penumpang yang naik. Meskipun semua kursi tetap penuh terisi dan hanya menyisakan beberapa orang yang berdiri. Pengamen itu kembali naik dan berdiri tepat di belakang supir. Tentu saja dengan senyum yang sama yang selalu ia berikan pada kami, penumpang. Tarikan otot-otot di sekitar bibirnya itu mampu membuat kedua pipinya berlubang.

“Selamat siang Om, Tante, Kakak. Maaf kami mengganggu perjalanan anda.” Kata pengamen itu mengucapkan kalimat pembuka. Dan terdengarlah suara indah dari bibirnya. Kali ini bukan lagu-lagu cinta yang biasa ia bawakan tapi lagu dari sebuah band yang menyindir para koruptor di Indonesia.

“Seperti para koruptor,” ucapnya. Saat yang sama, bus berhenti di depan gedung para wakil rakyat. Aku menoleh ke arah kanan. Terlihat gedung yang begitu tinggi dan besar seolah menggambarkan kebesaran dan kekuasaan orang di dalamnya. Di depannya sebuah halangan berupa gerbang besar, seperti menjadi pembatas antara rakyat dan wakilnya.

“Seandainya saja bukan seorang pengamen, saya rela jadikan dia menantu,” terdengar suara pelan seorang ibu-ibu di sampingku. Aku hanya tersenyum mendengarnya

*****

Pengamen itu, senyumnya, lagunya di atas bus kota terus saja berlanjut. Menemani perjalanan pulang sekolahku. Lagu yang ia bawakan tidak pernah konsisten, selalu berubah. Aku tidak dapat menangkap alasan dari setiap lagu yang ia bawakan. Terkadang ia menyanyikan lagu yang sedang menjadi hits. Tidak jarang pula ia menyanyikan tembang-tembang lawas yang membuat penumpang yang sudah berumur bernostalgia dengan masa mudanya. Atau membuat tante dan om menjadi mengingat pasangan mereka.

Suatu hari ketika pengamen itu menyanyikan lagu milik Ruth Sahanaya, seorang tante memberika uang dua puluh ribu rupiah padanya. Uang yang cukup besar baginya, hingga pengamen berkata pada tante itu.

“Ini nggak salah kasih, Tante?” Tante itu menggeleng sambil tersenyum.

“Makasih Tante,” ucap pengamen itu sambil berlalu.

Aku tidak menyadari kalau itu adalah pertemuan terakhirku dengannya. Tadinya aku selalu berpikir kalau selama aku masih naik bus itu, maka aku akan kembali bertemu dengannya, tapi ramalanku meleset.

*****

Setiap hari aku selalu berharap kalau sosoknya kembali datang dengan senyum di atas bus ini. Senyum yang membuka pertunjukannya. Senyum dan suara yang mampu mengalihkan kami dari kejenuhan kemacetan Jalan Gatot Subroto. Sampai hari ketiga, sosok itu tidak lagi datang.

Ketika aku sejenak melupakan sosok pengamen itu. Sosoknya yang pergi tergantikan dengan sosok pengamen baru yang datang. Namun tetap saja senyumnya yang khas tidak mudah kulupakan. Begitupun dengan suara dan petikan gitarnya. Tidak ada satu pengamen pun yang dapat menyerupainya. Justru ketika akan melupakan sosok itu, jawaban yang selama ini kucari terjawab.

Seorang lelaki berbalut kemeja dengan rambut klimis muncul di layar stasiun televisi. Ketampanannya menjadi daya tarik agar penonton melihat acara yang dibawakannya. Mata lelaki itu seolah menatapku atau siapa saja yang juga menatap ke arahnya.

“Lagi-lagi pembunuhan dengan cara mutilasi terjadi di ibukota. Kali ini terjadi di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Potongan tubuh manusia tersebut ditemukan di sebuah karung yang diletakan di atas tumpukan sampah. Seorang pemulung yang pertama kali menemukan karung tersebut langsung melaporkannya kepada pihak kepolisian. Dari hasil identifikasi diketahui bahwa korban adalah seorang pengamen.”

Tenggorokanku tiba-tiba terasa tercekik mendengar kalimat terakhir. Pikiranku mulai melayang mengingat senyum pengamen yang dulu mengisi perjalanan pulangku. Aku mencoba menajamkan penglihatanku pada layar datar televisi.

“Dan ini adalah foto korban.”

Kini aku benar-benar tercekik melihat gambar itu. Kupaksa keyakinanku untuk berpikir kalau aku salah melihat. Tapi nyatanya memang benar, foto itu adalah pengamen yang kutunggu kabarnya.

“Kamu kenapa? Kenal sama pengamen itu?” Tanya ibuku yang sepertinya sadar dengan perubahan raut wajahku.

Aku menggeleng, berbohong. Aku tidak siap diberondong pertanyaan menyelidik ala ibuku.

*****

Di dalam bus, aku duduk di pojok sambil termenung memikirkan berita kemarin. Masih ada rasa tidak percaya pada pemberitaan itu. Separuh otakku berpikir kalau foto yang kulihat itu salah. Mataku sedang bermasalah.

Teriakan Halte Karet yang biasanya menjadi tempatku turun sengaja kuabaikan. Aku akan turun dipemberhentian terakhir bus ini, Kampung Melayu. Sendirian aku turun tepat di depan halte busway. Tidak jauh dari sana, masih ada garis polisi membentang sepanjang tiga meter.

Juga masih ada beberapa orang yang berdiri di sekitarnya, sekedar melihat nontonan gratis. Aku yang termasuk beberapa orang kurang kerjaan itu mencoba menajamkan telinga. Berharap ada informasi nyasar yang menyangkut ke telingaku.

“Udah mati muda, tragis lagi.” Kata seorang lelaki di belakangku. Aku terdiam dan terus mendengarkan.

“Cinta buta.”

“Nggak nyangka kalau dia seorang gay.”

Aku terdiam kaku. Kerongkonganku terasa kering. Ototku terasa kaku untuk digerakan.

Cukup lama aku berdiri dalam diam, sampai akhirnya kucoba untuk menggerakan kakiku. Melangkahkan kaki menuju bus kota. Aku tidak mau mendapat pertanyaan menyelidik dari ibuku karena pulang terlalu sore.

“Selamat sore Om, Tante, Kakak. Maaf kami mengganggu perjalanan anda.”

Aku melotot melihat senyum itu.

*****

Cerpen ini pernah dimuat di majalah Horison Online pada 22 Oktober 2012

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Ceritanya bagus dan menarik untuk dibaca karena dalam cerita tersebut kita diajarkan untuk tidak menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Hal itu telah dijelaskan oleh seorang pengamen yang mati akibat pembunuhan sadis beralasan cinta buta. Siapa sangka bukan sosok yang kita lihat menarik ternyata tidak lebih baik dari penampilannya.

  2. Senyuman bus kota. Cerita yang bagus dan membuat saya penasaran dengan kelanjutannya. Seorang anak umur belasan tahun yang hidup sederhana. Mencari uang dengan mengamen di bus kota. Sebuah pemandangan yang sebetulnya tidak pantas ada di negeri tercinta ini. Negeri yang kaya, memiliki gedung-gedung pemerintahan yang menjulang tinggi dan mewah. Namun masih ada anak yang seharusnya sekolah tetapi malah ngamen di tengah ramai dan penatnya Ibukota. Ditambah dengan berita kasus mutilasi yang terjadi. Namun sangat kagum dengan tokoh anak belasan tahun tersebut. Karena meskipun hanya pengamen, ia mampu menghibur penumpang bus kota dengan suara dan sapaan khasnya. Keren..

  3. Senyuman bus kota. Agak ragu di awal untuk membaca artikel ini, karna judulnya yang tak biasa. Ya, kisah ini menceritakan seseorang yang setiap harinya pulang sekolah menaiki bus kota. Kembali, senyum itu ia lihat lagi di tengah keramaian bus, ya “seniman jalanan” kata orang, mulai ia bicara untuk menyampaikan maksud ia berdiri di belakang kursi supir, lalu bernyanyi. Perasaan berbeda saat ia melihat kembali senyuman itu di dalam bus. Ya! Jatuh cinta ia alami kepada pengamen itu, senyuman, dan suara indahnya mampu mengikat hatinya, sampai hari terakhir dia melihatnya, ia mengherankan, mengapa tak kunjung ia lihat lagi senyuman manis itu.
    Membuka perbincangan, pembawa berita mengabarkan berita kriminal, kematian seorang pengamen yang dimutilasi di kawasan Kampung Melayu, seakan membuat lehernya bagaikan tercekik dengan kuat, saat ia melihat foto wajah pengamen tersebut. Sengaja ia acuhkan halte Karet yang biasa menjadi tempat ia turun dari bus, ia mengikuti sampai terus ke arah Kampung Melayu. Garis polisi masih terpampang di depan halte, bagaikan tontonan gratis orang ramai menontonnya, sebelum ia sampai di tkp, ia mencoba mendengarkan perkataan orang untuk mencari informasi. Cinta buta, mati muda, tragis, gay.
    Kata-kata itulah yang membuat ia terdiam sejenak. Badannya kaku, namun ia segera menuju bus, karna tak ingin diburu pertanyaan menyelidik dari ibunya.
    “Selamat sore Om, Tante, Kakak. Maaf kami mengganggu perjalanan anda.”
    Perkataan itu membuat kedua matanya melotot.
    Dapat saya tarik inti dari maksud cerita di atas : “Jangan mendengar perkataan buruk sesorang yang belum tentu benar.” Menurut saya, seperti yang ada dalam cerita, pengamen yang mati itu adalah seorang gay, yang mungkin mempunyai foto pengamen yang disukai oleh tokoh aku.
    Saya sangat suka artikel ini, jalan cerita yang membuat para pembaca menjadi ingin tahu apa kelanjutannya, sampai pada akhir cerita, bahasa yang digunakan cukup mudah dimengerti, dan saran saya, cerita yang ditulis janganlah dibiarkan menggantung. Tapi saya suka dengan cerita-cerita beraromakan misteri, karna dapat mengasah fikiran seseorang untuk terus ingin tahu dan ingin tahu. Terus berjuang menjadi guru&penulis yang baik untuk kami para pembacamu.

  4. Senyuman Bus Kota. Ceritanya bagus dan gaya penulisannya yang menarik sehingga membuat si pembaca penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Di tengah ramai dan penatnya ibu kota masih banyak anak belasan tahun tidak bersekolah malah menjadi pengamen jalanan hal yang sangat tragisnya lagi dikota nan ramai ini terjadi pembunuhan dengan cara mutilasi. Namun saya kagum dengan tokoh anak belasan tahun tersebut meskipun ia tidak bersekolah tetapi ia memiliki semangat yang tinggi untuk menjalani hidupnya.

  5. cerpen ini sangat menarik dengan akhir yang membuat pembacanya penasaran karena apakah benar pengamen yang ditunggu kabarnya oleh sosok aku itu telah di mutilasi seperti yang diberitakan dan sangat disayangkan juga anak yang berusia belasan tahun dan berbakat malah mengamen di bus kota

  6. Certa nya sangat bagus, menceritakan bagai mana keras nya ibukota, dan tidak pernah memandang orang sebelah mata,saya sangat suka, yang di akhir kalimat nya juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s