Gedung

Seperti biasa, ketika pulang sekolah, aku akan memperhatikan gedung besar yang letaknya di depan perkampungan rumahku. Orang-orang kampungku menyebutnya Gedung Pencakar Langit. Dinamakan seperti itu karena memang gedung itu begitu tinggi hingga hampir menembus langit kota ini. Bahkan tidak ada pesawat yang berani terbang di atasnya. Dengan warna biru muda yang mendominasi, gedung itu terlihat kokoh berada di antara Negeri Edan, negeri termiskin di jagat raya ini. Di setiap mata memandang, kaca hitam gedung menjadi penghalang bagi siapa saja yang ingin melihat jauh ke dalamnya.

Kelihatannya memang aneh, membangun gedung besar tidak di kota metropolitan. Melihatnya seperti sebuah berlian di tengah-tengah tumpukan sampah. Kata Emak, gedung ini mulai dibangun ketika aku lahir. Saat itu, betapa bahagianya penduduk kampung mendengar ada pembangunan maha agung di kampung kami. Apalagi saat pembangunan berlangsung, setiap bulan pemiliknya selalu memberikan makanan pada kami yang nantinya bisa untuk makan sebulan tanpa harus bekerja.

Aku suka terus-menerus menatap gedung itu. Entahlah, rasanya ada kekuatan maha agung yang membuatnya terlihat mengagumkan di mataku. Membuatku jadi semakin penasaran dengan keadaan di dalam gedung. Aku bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk menatap takjub gedung itu. Sampai-sampai Emak sering menjemputku, mengomel karena aku tidak kunjung pulang.

Setiap pagi, aku melihat seorang laki-laki paruh baya memasuki gedung tersebut. Dia menggunakan mobil mewah berwarna hitam yang akan berhenti di depan gedung itu. Sebelum masuk ke dalam gedung, laki-laki itu selalu menebarkan senyum manisnya pada kami yang berada jauh di luar. Terkadang ia suka memberikanku uang saku. Laki-laki itu biasanya selalu menggunakan jas berwarna hitam dengan tas jinjing di tangan kanannya. Rambutnya dibuat klimis, dan terkadang aku sering mencium aroma kamboja dari tubuhnya.

*****

Malam hari, aku tidak bisa tidur karena suara berisik yang berasal dari teras rumahku. Dengan sedikit terkantuk, aku membuka sedikit jendela kamar yang langsung berhadapan dengan teras. Kulihat abangku sedang berdiri di hadapan belasan teman-temannya. Tangannya memegang sebuah buku besar yang tadi pagi dibawanya dari Negeri Metropolitan seberang.

“Di Negeri Metropolitan, aku bertemu seorang kakek. Beliau bertanya asalku, dan ketika kujawab kalau aku berasal dari Kampung Edan, beliau langsung menatapku takjub. Kemudian beliau mencium kakiku yang tidak beralas.”

Kulihat hampir seluruh teman-teman abangku membuka mulutnya. Matanya memandang abangku dengan tidak percaya. Tanpa mendengar respon teman-temannya, abangku kembali melanjutkan.

“Begitu selesai menciumi kakiku yang bau tai ayam, kakek itu menyuruhku duduk di sampingnya, di kursi kayu. Kemudian beliau menceritakan sesuatu hal yang tidak pernah kutahu sebelumnya, tentang negeri para malaikat.”

Rasaku kantukku mendadak hilang, terganti dengan rasa penasaran. Aku semakin mendekatkan diri ke jendela. Mempertajam telingaku untuk mendengarkan cerita abangku.

“Dulu, ketika Tuhan menciptakan dunia, Tuhan meminta malaikat untuk menjaganya. Di setiap negeri, Tuhan mengirimkan satu malaikat-Nya. Namun semua malaikat justru datang ke satu negeri. Dan ketika Tuhan menciptakan manusia untuk memakmurkan dunia, terjadi ketidakseimbangan di dalamnya. Manusia yang tinggal di negeri yang tanpa malaikat, menjalani hidup mereka dengan kesengsaraan. Sebaliknya manusia yang hidup di negeri yang banyak malaikatnya, hidup makmur.”

“Negeri itu adalah surga bagi dunia ini. Bagaimana tidak? Ketika kau menancapkan sebuah kayu di atas tanahnya, maka dari dalam tanah itu memancurlah air yang begitu bening. Saat kau meminumnya, maka air tersebut dapat menghilangkan rasa dahagamu selama berhari-hari. Ketika kau lapar, maka tanamlah sebuah bibit tumbuhan, maka bibit itu akan tumbuh subur menjadi makanan yang rasanya begitu maha enak. Ketika kau sakit, basuhlah tubuhmu yang sakit dengan tanah negeri itu, niscaya sakitmu akan sembuh dengan sendirinya.”

“Begitu maha dahsyatnya negeri itu, sehingga manusia menyebutnya Negeri Eden. Tidak ada negeri di jagat raya ini yang mampu menandingi kemakmuran manusianya. Tidak ada negeri di jagat raya ini yang mampu menandingi kedahsyatan tanahnya yang subur.”

“Lalu di manakah sekarang negeri para malaikat itu?”

“Di negerimu.”

“Sungguh, aku tidak percaya dengan ucapan kakek itu. Negeriku, negeri kita adalah negeri surga,” kata abang. “Sampai akhirnya ketika kekek itu memberikanku buku ini, buku sejarah negeri kita. Baru setelah selesai membacanya, aku percaya dengan kakek itu.”

“Kalau ucapan kakek itu benar, kenapa hidup kami tidak makmur? Kenapa padi tidak bisa tumbuh di negeri ini? Kenapa tidak ada tumbuhan yang bisa tumbuh di negeri ini?”

“Karena para malaikat telah pergi dari negeri kita. Manusia itu telah mengusirnya.”

*****

Beberapa hari setelah kejadian malam itu, abangku mati. Ia mati terbunuh ketika akan pergi ke negeri seberang. Rencananya abangku akan mencari kakek itu lagi, untuk bertanya bagaimana cara mendatangkan malaikat ke negeri kami. Abangku ingin mengubah Negeri Edan menjadi Negeri Eden.

Malam hari sebelum keberangkatannya, abang berbicara denganku. Saat itu, aku tidak memiliki firasat kalau itu malam terakhirku dengannya.

“Adikku, maukah kau berjanji padaku?” tanyanya.

“Berjanji apa?”

“Tetaplah bersekolah dengan Bu Mini. Jangan pernah tergiur bila laki-laki itu menawarkan pekerjaan yang menggiurkan padamu.”

“Kenapa? Bukankah laki-laki di negeri ini bekerja juga padanya. Kata mereka, laki-laki itu baik.”

Abang mengeluarkan sebuah jeruk dari tas kecilnya. Ia menyuruhku untuk menciumnya.

“Bagaimana?”

“Baunya harum.”

“Cobalah kau makan.”

Aku menurut. Kumasukkan jeruk itu ke mulutku. Lidahku getir merasakan rasa jeruk itu, asam. Abangku tersenyum melihat mataku yang menyipit.

“Seperti itulah laki-laki itu.”

Di hari kematiannya, laki-laki itu datang. Ia memberikan banyak uang pada Emakku. Katanya untuk sekedar membantu. Emak yang tadinya menangis, meraung, karena tidak rela dengan kepergian abangku mendadak diam. Ia menghapus air matanya dan tersenyum menerima uang dari laki-laki itu. Bahkan dengan berlebihan, Emak menciumi tangan laki-laki itu sambil terus mengucapkan terima kasih.

Di teras rumah, aku sempat mendengar perbincangan singkat laki-laki itu dengan guruku, Bu Mini.

“Kematiannya tidak akan mengubah pendirianku,” kata Bu Mini.

“Silakan, iblis-iblis masih berkuasa di negeri ini.”

*****

Aku tidak tahu siapa sebenarnya laki-laki itu. Aku hanya tahu kalau laki-laki itu sering datang ke setiap rumah saat salah satu anggota rumah itu ada yang mati. Dulu ia juga pernah datang ke rumahku saat abangku mati terbunuh. Ia juga pernah datang ke rumah temanku yang ayahnya mati terbunuh. Dan ia juga pernah datang ke panti asuhan di dekat rumahku saat semua anak-anak panti mati terbunuh.

Biasanya saat datang, ia selalu memberikan kami uang. Bahkan dalam jumlah yang cukup banyak karena bisa untuk makan satu tahun. Aku sempat berpikir apakah laki-laki itu begitu kaya sehingga tidak sayang untuk membagi-bagikan uangnya pada kami, orang yang tidak dikenalnya.

Biasanya aku tidak pernah peduli dengan laki-laki itu, tapi karena tadi pagi aku melihat dia datang di rumah guruku yang mati terbunuh, aku menjadi penasaran dengan laki-laki itu. Ya, Bu Mini, guru satu-satunya di negeri kami akhirnya mati, menyusul abangku. Sepulang sekolah, aku sengaja duduk di depan gedung itu secara sembunyi-sembunyi. Aku terus memperhatikan keadaan di sekitar gedung sampai malam hari.

Saat malam tiba, warna biru gedung itu terlihat lebih terang dibandingkan saat pagi. Lampu-lampu di dalam gedung juga akan menyala, membentuk sebuah tulisan yang sulit aku baca. Saat itu pula, aku juga melihat laki-laki itu keluar dari gedung. Kini ia menggunakan jas hitam dengan kerah yang dibiarkan menjulang sampai batas telinganya. Sebuah mahkota bertahta di atas kepalanya. Tidak lama kemudian terlihat sebuah mobil berhenti di depannya. Mataku terbuka sangat lebar saat melihat sosok Bu Mini, guru sekolahku yang tadi pagi mati, keluar dengan luka-luka disekujur tubuhnya. Aku semakin kaget saat melihat Bu Mini berjalan terseok-seok ke arah laki-laki itu, menandakan beliau masih hidup. Dengan perlahan, kuberanikan diri untuk mengendap masuk agar dapat mendengar dengan jelas perbincangan mereka.

“Kau adalah manusia paling tidak bermoral,” teriak Bu Mini lantang.
Laki-laki itu malah tertawa hambar sambil mendekat ke arah Bu Mini. “Untuk menaklukan dunia, tidak lagi memerlukan moral, tapi uang.” Suara laki-laki itu begitu pelan.

Kemudian ia melakukan gerakan tepuk tangan secara singkat dan keluarlah sosok-sosok yang selama ini kuanggap telah mati. Kondisi mereka sama seperti Bu Mini saat berjalan ke arah laki-laki itu.

“Lihatlah! Lihatlah manusia bermoral! Mereka yang mementingkan moral, akan mati sia-sia.”

Sinar merah yang menyala dari matanya seolah menjadi lampu penerang bagi diriku untuk melihat lebih jauh. Dan saat ia melihat ke arah dalam gedung, aku dapat membaca tulisan dari kumpulan lampu-lampu itu, “NERAKA”.

*****

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Ceritanya bagus, menarik untuk dibaca dan membuat saya penasaran dengan ceritanya. Awalnya saya tidak mengerti dengan alur ceritanya tetapi setelah membacanya hingga selesai baru saya mengerti, saya menyimpulkan bahwa tokoh “Aku” sangat mengagumi gedung yang menurut dia tempat itu bagaikan surga di dunia ini, tetapi setelah ia melihat isi yang ada dalam gedung itu ternyata adalah tempat yang membuat semua orang menderita dan sengsara. Cerita ini mengajarkan kita untuk tidak menilai sesuatu dari luarnya saja, melainkan kita juga harus tahu apa yang ada didalamnya. Buat apa cantik kalau hatinya busuk.

  2. vika809 says:

    ceritanya cukup menarik, saya menyimpulkan bahwa tokoh “aku” dalam cerita ini sangat mengagumi gedung yang ada di kampungnya. Tapi saat kakaknya menceritakan bahwa lelaki tersebut adalah orang yang tidak baik, dia menjadi penasaran dan akhirnya dia tahu bahwa gedung yang selalu dikagumi nya adalah sebuah tempat yang membuat semua orang sengsara dan menderita.
    kita dapat mengambl hikmah dari cerita ini bahwa janganlah menilai orang dari luarnya saja karna kalian tidak tahu bahwa diluar terlihat baik tetapi didalamnya buruk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s