Aku Iri dengan Kucing

coverKucing itu masih hidup ketika aku menemukannya pagi ini. Ia berdiri-tentu saja dengan menggunakan keempat kakinya-di samping tubuh Rere, sahabat karibku. Mata birunya memandang tubuh Rere yang terbujur kaku. Sama sekali tidak dihiraukannya darah segar yang masih mengalir dari kepala gadis itu. Ketika aku mendekat, kucing itu tersadar. Binatang itu menegakkan kepalanya yang bulat ke arahku. Ditatapnya mataku. Bukan tatapan yang sama saat ia melihatku memegang sebungkus makanannya. Saat aku semakin mendekat, kucing itu beralih pada Rere. Dari telingaku, kudengar suara yang menyayat hati.

“Meong.”

*****

“Aku akan ke sana.”

Begitulah ucapan Rere sore ini. Saat aku datang ke apartemennya di kawasaan Karet sembari memegang setumpuk buku, ia langsung mengucapkan kalimat itu. Tiga kalimat yang kupahami betul.

“Kamu boleh menginap di sini.”

Kata ‘boleh’ dalam kamus Rere adalah harus. Selalu seperti itu. Tentu saja bukan karena ia manusia super baik. Rere tidak pernah baik padaku. Alasannya aku memiliki banyak hal yang tidak dimiliki banyak orang di luar sana. Jadi, lebih baik, ia berbuat baik saja pada banyak orang di luar sana. Rere mengharuskanku menginap hanya untuk menjadikaanku cat sitter-nya. Kucing sejenis Japanese bobtail yang dibelinya setahun lalu di Bandung.

“Jangan lupa pagi sebelum kamu kuliah, si Meong harus diberi makan. Susunya bisa diberikan sore, setelah kamu pulang. Makanannya ada di laci dapur….” Dan ia terus mengoceh tentang petuah-petuah yang sebenarnyaa sudah di luar kepalaku. Namun tetap kubiarkannya mengoceh hingga lelah.

“Tapi minggu depan kita UTS. Apa tidak bisa kamu tunda,” sergaku.

Rere menggeleng. Ia menghentikan kegiatan memasukan pakaiannya ke tas dan berbalik menatapku. Katanya, “ini sudah dua kali. Dan kita akan selamanya diam saja? Begitu maksud kamu?”

“Bukan. Maksudku, untuk apa kamu jauh-jauh ke sana. Mengeluarkan uang untuk membantu orang yang sama sekali tidak kamu kenal.”

“Kemanusiaan.” Rere menyeleting ranselnya. Ia berdiri, menghampiri si Meong, mengelusnya sebentar kemudian pergi.

“Meong….” Si Meong bersuara tanpa didengar Rere.

*****

Benar dugaanku. Kasus ini mirip dengan kasus Marsina. Perempuan itu berdemo dengan puluhan karyawan lain menuntut kenaikan gaji yang lebih manusiawi. Perusahaan menolak dan mengancam akan mem-PHK mereka jika masih berdemo. Namun, para karyawan mengancam balik dengan memboikot akses menuju pabrik. Mereka juga menghasut karyawan lain untuk tidak bekerja sebelum ada kejelasan tentang gaji mereka. Kupikir mereka salah karena menghasut. Namun, apa boleh buat jika ingin menuntut keadilaan. Toh, mereka bukan sapi perah yang harus dipaksa bekerja hingga dua belas jam tetapi gajinya tidak cukup untuk membeli sekaleng susu.

Para buruh berdemo cukup lama. Setiap hari selama seminggu. Itu membuat perusahaan gerah. Mereka tidak dapat berproduksi sedangkan beban listrik, air, dan lain-lain terus mengalir. Akhirnya mereka sepakat untuk menaikkan gaji para buruh dengan syarat, tidak ada cuti tahunan. Gila, perusahaan macam apa yang tidak memberikan hak karyawan. Buruh tidak setuju. Sudah bekerja lebih dari setengah hari, cuti pun tidak ada. Mereka menolak dan perusahaan kembali gerah. Akhirnya perusahaan kembali mengalah. Buruh bekerja kembali dengan luapan rasa haru.

Bulan berikutnya, gaji yang dijanjikan tidak terwujud. Tidak ada kenaikan gaji. Para buruh protes. Perusahaan berdalih jika keuangan sedang tidak stabil karena produksi menurun akibat demo mereka. Buruh tidak percaya. Itu hanya akal-akalan perusahaan saja. Buruh kembali berdemo, bahkan mereka juga memboikot akses jalan. Truk-truk pengangkut barang produksi perusahaan tidak dapat keluar. Para sopir juga dipaksa turun. Sampai malam, mereka tetap bertahan.

Keesokan pagi, perempuan itu hilang. Kawannya melihatnya terakhir malam sebelumnya. Perempuan itu pulang. Ia pulang sendiri dengan melewati perkebunan. Itu jalan yang paling cepat menuju rumahnya. Tapi nyatanya, ia tidak pernah sampai di rumah. Demo dibubarkan dan digantikan dengan mencari perempuan itu. Semua warga mencari. Hasilnya nihil. Tiga hari kemudian, mayat perempuan itu mengambang di sungai. Telanjang.

Hasil autopsi, banyak luka memar akibat pukulan benda tajam. Kemaluannya memar. Mungkin ia diperkosa banyak orang secara bergilir sebelum dibunuh. Atau bahkan dibunuh dulu. Dua minggu kemudian polisi menetapkan seorang tersangka.

Laki-laki itu mengatakan membunuh karena takut ketahuan memperkosa korban. Kupikir ia berbohong. Tujuan utama tindakan itu adalah pembunuhan bukan pemerkosaan. Menikmati tubuh gadis itu hanya bonus dari pekerjaan utama mereka. Sebulan kemudian, laki-laki bebas karena naik banding.

Ps: Elang, sepertinya aku akan lebih lama di sini. Mungkin sekitar dua minggu. Aku akan melewatkan pekan UTS. Kudengar Bu Ratna memberikan tugas UTS take home. Aku tidak akan meminta bantuanmu lagi untuk mengerjakan tugasku. Tugas itu cukup sulit. Kamu pasti kesulitan. Cukuplah kamu merawat Meongku saja. Itu sudah sangat membantuku. Sekali lagi maafkan aku sering mengecewakanmu karena keputusanku. Aku menyayangimu.

*****

Kupandangi layar computer milik Rere. Gadis itu dan pemikirannya yang selalu membuatku bingung. Kepedulian dan rasa sayangnya padaku yang tidak kumengerti. Rere, gadis manis yang amat kusayangi. Ia satu-satunya kawan terbaikku.

Kubuka Microsoft Word di depanku. Elang Rahmasyah kuhapus dan mengetik Rere Oktavia. Hanya itu yang dapat kulakukan.

*****

“Meong.”

Si Meong yang mengelurkan suara tidak sabar ketika melihatku membawa sebungkus makanannya. Kutumpahkan potongan-potongan biscuit ikan itu ke atas tempat makan Meong. Ia makan dengan lahap. Mungkin karena aku telat memberinya makan karena kesiangan.

Sudah tengah hari. Aku membuka gorden, sinar matahari menyeruak masuk, menembus kaca besar tanpa film itu. Di hadapanku kuli-kuli bangunan membawa alat-alat material. Mesin-mesin berdengung namun tidak dapat kudengar. Rere bilang, itu akan dibangun apartemen baru. Tempat tinggal yang jauh lebih mewh dari apartemen Rere. Mungkin penghuninya para eksekutif. Mungkin juga para pejabat yang kebanyakan uang hingga bingung mau disimpan di mana uang mereka.

“Meong.”

Si Meong kembali mengeong. Kepala kucing itu mendusel-dusel kakiku. Kubawa kucing itu ke pangkuanku, mengelus bulu-bulu putihnya dengan lembut. Kasihan si Meong. Dia pasti rindu dengan Rere. Mareka selalu menghabiskan waktu bersama. Sejak bangun tidur sampai Rere memejamkan mata. Tidak jarang gadis itu membawa si Meong ke ranjang hangatnya.

Mataku beralih ke samping pembangunan itu. Ada sekumpulan anak-anak kurus berlarian. Perut mereka buncit seperti bapak-bapak yang mengalami obesitas. Ibu-ibu yang memanggil mereka, membawanya ke rumah kumuh mereka. Tikus-tikus yang kelaparan di tengah lautan padi.

Kulihat si Meong tertidur pulas dalam pangkuan. Tidur dengan tenang tanpa menyadari apa yang dilakukan majikannya.

*****

12 Mei 1998

Kutancapkan setangkai mawar merah ke gundukan tanah basah di Karet Bivak. Membungkukkan tubuh seraya mencium goresan nama sahabatku. Pelan sambil berhembus, kubisikkan kalimat untuk Rere. “Kalau bertemu perempuan itu jangan lupa bertanya siapa yang membunuhnya. Mungkin kalian dapat saling bercerita. Mungkin, pembunuh kalian orang yang sama.”

*****

Cerpen ini saduran puisi dari Ihsanul Rizki

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s