Lelaki Sang Adam

on

Setelah memarkir mobil, aku mengikuti Terry menuju salah satu bangsal rumah sakit. Sebelumnya ia sempat meminta izin kepada kepala rumah sakit. Kami berjalan sambil mengikuti seorang suster yang kuketahui bernama Selvi, menelusuri lorong-lorong rumah sakit. Sesekali mataku melihat ke arah kiri yang terdapat rerumputan. Di sana terlihat banyak manusia yang bernyanyi, menimang bayi boneka bahkan ada yang tertawa-tawa sendiri. Aku sempat bergidik ngeri karena inilah pengalaman pertamaku masuk ke dalam rumah sakit jiwa.

Kalau dulu aku begitu penasaran dengan keadaan dalam rumah sakit jiwa ini, tapi kini tidak begitu antusias ketika memasuki tempat ini. Rasanya seperti aku masuk ke dalam tempat umum biasa. Sedikit pun hatiku tidak bergetar seperti dulu.

Sampai akhirnya suster Selvi berhenti di sebuah bangsal, yang membuatku dan Terry juga menghentikan langkah kami.

“Ini kamar Nona Maya,” kata suster Selvi.

Terry mengangguk. Sedikit ragu, ia berjalan perlahan mendekati bangsal itu. Tapi baru selangkah, ia berhenti dan menoleh menatapku. “Kamu mau ikut masuk atau…”

“Aku tunggu di luar saja,” kataku memotong ucapan Terry. Ia kembali mengangguk dan mulai masuk diikuti suster Selvi.

Aku hanya melihat Terry dari luar bangsal. Gadis itu perlahan mendekati seorang perempuan yang rambutnya tidak terurus. Perempuan itu menggunakan pakaian yang sama dengan orang-orang yang tadi kulihat di taman.

Sudah tiga puluh menit Terry berada di dalam. Dan sampai saat ini belum menunjukan tanda-tanda akan selesai. Aku yang memang tidak suka menunggu, berdiri dan mulai beranjak dari tempat itu. Tadinya aku akan pergi ke kantin untuk sekedar mengopi kalau saja saat berbelok, aku tidak mendengar sebuah suara.

Perempuan dengan cinta dalam senyumnya

Berjalan menghampiri tubuh yang membeku kagum

Terlihat olehku

Pancaran mata yang menerobos kalbu

Sinarnya laksana kunang dalam kelam

Aku terdiam

Senyumnya menusuk kekokohan hati

Menorehkan kepingan ego yang telah runtuh

Meninggalkan cinta dalam kehancurannya

Mengelak?

Tidak percaya?

Kupastikan itu meski harus berkhianat

Menimbulkan gejolak hati dalam raga

Kini…

Aku menjilat ludah

Mencabut sumpah dalam lampau

Karena satu

Kuperjuangkan cinta dalam senyumnya

Tak kubiarkan cintanya pergi

Dan,

Kujanjikan cintanya diberikan padaku

Aku menolehkan kepalaku dan terlihat seorang gadis muda sedang duduk sendirian sambil tangannya menggenggam sebuah buku. Baju yang ia pakai menginformasikan kalau ia salah satu pasien rumah sakit. Tapi melihat rambutnya yang panjang terurai rapi, mendengarkan suaranya, dan merasakan caranya membacakan puisi, aku tidak yakin ia seperti mereka. Perlahan aku membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya dan mulai berjalan ke arahnya. Saat aku berada tepat di depan tubuhnya, ia tersenyum menatapku.

“Rasty,” katanya seraya menjulurkan tangan kanannya padaku.

Aku menatapnya ragu. Kemudian mataku melirik ke kanan kiri meminta penjelasan dari siapa pun yang bisa kumintai. Tapi nihil, sepanjang lorong itu hanya ada kami dan beberapa pasien lainnya yang tentu saja tidak bisa kumintai penjelasan.

“Rasty,” katanya lagi dengan masih mempertahankan tangannya yang menjulur padaku sejak tadi.

Ragu-ragu aku mengulurkan tanganku secara perlahan ke arahnya. “Adam.” Tepat saat ia menggenggam tanganku, hangat telapak tangannya mulai menjalar ke sekujur tubuhku.

“Duduk.” Aku mengangguk dan mengikuti perintahnya..

“Kamu tahu, setiap orang selalu membicarakan banyak cinta. Cinta pada Tuhan, cinta pada dirinya sendiri, cinta pada orang tua, cinta pada kekasih, semuanya tentang cinta yang bercabang.” Ia menatapku yang kubalas hanya sebuah anggukan kecil. “Tapi Adam berbeda.”

Aku tersentak mendengar namaku disebut olehnya. Kenal dari mana dia padaku? Bertemu saja baru kali ini.

“Tapi Adam berbeda,” ucapnya mengulang menyebut namaku.

“Adam?” Ia mengangguk.

“Ya, Adam.”

“Aku?” Ia menggeleng.

“Bukan kamu tapi Adam.”

“Tapi aku adalah Adam.” Ia kembali menggeleng.

“Kamu adalah dirimu, dan Adam adalah Adamku. Lelaki milikku.” Ia diam sebentar kemudian melanjutkan. “Adam. Adamku. Lelaki milikku. Dia berbeda. Saat orang membicarakan cinta pada Tuhan, Adam justru membicarakan cintanya padaku. Saat orang membicarakan cinta pada orang tua, Adam justru membicarakan cintanya padaku. Saat orang membicarakan cinta pada kekasihnya, Adam justru membicarakan cintanya padaku.”

“Dia kekasihmu?” Ia menggeleng.

“Adam adalah lelaki milikku.”

“Dia memujamu?” Ia menggeleng.

“Aku yang memujanya,” katanya lagi membuatku terdiam.

Rasty tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia hanya diam sambil menatap kosong ke depan. Kuberanikan diri untuk menoleh, menatapnya. Sorot matanya yang tadinya kuanggap kosong kini menjadi begitu dalam saat aku menatapnya. Matanya seolah mengundangku untuk masuk ke dalamnya, melihat semua pikiran Rasty lewat matanya. Seperti rasa penasaranku dulu pada rumah sakit jiwa ini.

“Ini Adam, milikku,” ucapnya tiba-tiba. Rasty mengulurkan sebuah buku padaku padaku. Aku menerima buku itu dengan tangan sedikit gemetar, dan mulai membukanya.

Terpancar dari wajahnya, sinar paling berkilau milik sang mentari

Yang kehangatannya mampu meredam dinginnya hati

Pancaran yang seketika menyelimuti kalbu

Meredupnya adalah kehancuran bagi lingkaran kehidupan

 

Terlukis dari tatapan matanya, kesejukan milik sang samudera

Yang kedalamannya tidak mampu terjangkau oleh hati

Desaran ombak mampu menyapu kepedihan

Kesurutannya adalah kehancuran bagi lingkaran kehidupan

*****

Cantik, hari ini kita kembali bertemu. Kau kembali membuat darahku membeku dengan kecantikan wajahmu. Kau kembali memberikan senyum untukku. Menyapaku dengan kata-kata syahdu yang mengguncangkan hati.

Lalu kita berbincang tentang diriku. Kuceritakan tentang keluarga yang tak pernah kurasakan. Kuceritakan tentang ayah yang tak pernah kutemui. Kuceritakan tentang ibu yang tak pernah kupeluk tubuh hangatnya.

Aku terdiam melihat matamu yang berkaca-kaca. Lalu kukatakan kalau aku berhenti bercerita. Aku tak ingin melihat air mata keluar dari bola mata cantikmu. Kau menggeleng, ingin mengetahui lebih dalam tentang diriku.

Tidak ada kekuatan ayah untuk melindungiku. Tidak ada kasih sayang ibu untuk menghangatkanku. Yang tersisa hanya kekuatan bumi dan kasih sayang dari alam untukku.

Kalimat yang kuucapkan itu membuat air matamu jatuh. Aku berusaha memeluk dan menenangkan hatimu. Tidak akan kubiarkan cantikmu terluka.

*****

Dulu, kukatakan pada Tuhan kalau aku tak akan pernah memberikan hatiku pada siapapun, termasuk pada-Mu Tuhan. Kau terlanjur membuat hatiku membeku. Kau biarkan aku tumbuh tanpa sebutir cinta pun. Tapi kini, perempuan cantik telah merusak segalanya.

Takala ia datang menghampiriku dengan segala keegoan hatiku. Membuatku malu pada sumpah yang dulu kuucapkan. Membuatku terkadang tidak percaya dan ingin mengelak dengan apa yang ia perbuat.

Kini, kubiarkan malu itu merasuki dada. Kuyakini cintanya telah meleyapkan rasa malu. Cintanya seketika menghancurkan pertahanan egoku selama ini. Karena satu hal, aku mencintainya.

*****

Kata Tuhan Ia akan menciptakan bidadari untukku di surga nanti. Pertanyaanku, adakah bidadari yang seperti dirinya?

Yang putih wajahnya melebihi mutiara terbaik di dunia.

Yang merah bibirnya melebihi delima terbaik di dunia.

Yang halus kulitnya melebihi sutra terbaik di dunia.

Adakah Tuhan, yang seperti itu? Tuhan diam tak berkutik. Mampukah Kau ciptakan bidadari untukku yang seperti itu? Tuhan diam tak berkutik.

Senyumnya mendinginkan hati yang panas.

Suaranya menghangatkan hati yang dingin.

Tatapannya… Pancarannya…Kedipannya….

Tuhan, kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Kutanya sekali lagi pada-Mu, adakah bidadari yang seperti itu?

Saat sentuhannya dapat menutupi luka.

Saat pelukannya dapat menghapus rasa takut.

Saat ciumannya dapat mengukir sebuah senyuman.

Tuhan tetap diam dalam kesunyian-Nya.

*****

Bidadari untukku bukan diciptakan oleh Tuhan

Bidadari untukku tidak tercipta kerena kekasih manusia

Bidadari untukku tercipta dari keindahan milik dunia

Susu yang menciptakan keputihan kulitnya

Melati yang membuat keharuman tubuhnya

Karang yang menjaga kesunyiannya

*****

Setiap malam memiliki cerita tentang banyak hal. Tapi aku hanya memiliki satu cerita. Ceritaku bersamamu. Saat orang membicarakan cintanya pada Tuhan, aku hanya akan membicarakan cintaku padamu. Saat orang membicarakan cintanya pada orang tua, aku hanya akan membicarakan cintaku padamu. Saat orang membicarakan cintanya pada kekasih, aku hanya akan membicarakan cintaku padamu.

Kupastikan takan ada cinta yang bercabang dalam hatiku. Karena yang hanya tunggal, untukmu, milikmu. Semuanya akan terfokus kuberikan padamu. Tak perlu kau ragukan cintaku padamu. Karena sampai kapan pun, tunggalnya hati tak akan pernah berubah.

*****

Kubuka ceritaku bersama dirinya saat mentari mulai menyapa dunia. Sepasang mata penuh cinta menyambut kehadiranku. Nafasnya berhembus lega ketika kalimat kunci keluar dari bibirku. Untaian kata yang menjadi pintu bagiku untuk menjadikannya milikku sepenuhnya dalam jalinan nan suci. Dan lagi, ia menatapku dengan penuh cinta yang terus bertambah.

Hari itu, kukatan pada dunia, kukatakan pada Tuhan kalau bidadari ini milikku. Jiwa dan raganya telah kusemayamkan dalam hatiku. Kukunci rapat dan takan kubiarkan seorangpun menyentuhnya. Dirinya adalah diriku. Diriku adalah dirinya.

Dan malam ini, akan kuperbesar cinta di antara kami. Menyatuhkan segalanya dalam satu kata, cinta. Kutitipkan persembahan terbaikku dalam raganya. Sekali lagi, tanpa campur tangan Tuhan.

*****

Tubuhku tiba-tiba terasa kaku untuk bergerak. Mataku masih memperhatikan tulisan dalam buku Rasty. Baru aku sadari kalau nama Adam tertera dalam halam buku ini, Lelaki Sang Adam.

“Adam,” teriakan Terry membuyarkan tatapanku. Ia berjalan bersama suster Selvi menghampiriku. “Sedang apa di sini?”

“Mengobrol sama Rasty.”

“Gila kamu. Orang gila diajak bicara,” kata Terry yang membuatku langsung menatap Rasty. Tidak terlihat kemarahan dari mimik wajahnya mendengar ucapan Terry yang menyinggungnya.

“Ayo kita pulang, sudah sore,” ajak Terry. Aku mengangguk.

Saat aku, Selvy dan suster Terry baru beberapa langkah, kudengar suara Rasty yang membuat langkahku terhenti.

“Adam,” panggilnya. Aku menoleh dan melihatnya tersenyum padaku. Kutarik sedikit otot-otot bibirku untuk membalas senyumnya. Kemudian benar-benar meninggalkannya.

“Dia memang seperti itu,” kata suster Selvi.

“Seperti itu bagaimana?” tanyaku.

“Memuja seseorang yang bernama Adam.”

“Dia memuja kamu?” kata Terry setengah berteriak.

“Tidak, dia cuma memuja laki-laki yang namanya Adam, tapi bukan aku,” kataku..

“Adam itu adalah nama tokoh fiksi,” kudengar suster Selvi menghembuskan nafasnya pelan sebelum melanjutkan. “Dulunya Rasty adalah seorang penulis cerita fiksi. Tapi dia terlalu larut dalam ceritanya sendiri. Dia terlalu mengagumi tokoh Adam yang menurutnya sempurna itu. Pertama-tama mulai membayangkan kalau tokoh fiksinya menjadi nyata. Mulai sering menghayal dan akhirnya dia menjadi seperti ini.”

“Tragis,” kata Terry pelan.

“Adam tidak pernah ada di dunia ini. Dia cuma khayalan yang ada dalam otak Rasty. Dan buku yang tadi pegangnya adalah karangannya sendiri dengan tokoh Adam di dalamnya.”

Kemudian aku teringat dengan kalimat dalam buku milik Adam. Salah, tapi buku milik Rasty yang di dalamnya memuat tulisannya mengenai Adam.

Pertanyaanku, adakah bidadari yang seperti dirinya?

*****

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Dwi Aulia Lestari says:

    Alurnya cukup menarik. Mampu membuat penasaran si pembaca terutama dibagian awal sosok si resty. Yang ternyata seorang penulis fiksi yang terlalu larut dalam ceritanya sendiri. Dari cerpen diatas saya dapat mengambil hikmah jangan terlalu berkhayal mendapat sosok lelaki sempurna seperti Adam. Karena lelaki sempurna cuma ada dalam cerita.

  2. Dwi Aulia Lestari says:

    Alurnya cukup menarik. Membuat penasaran si pembaca di bagian awal baru kenal sosok si resty. Yang ternyata seorang penulis fiksi yang terlalu larut dalam ceritanya sendiri. Dan dari cerpen ini saya dapat mengambil pesan jangan terlalu berkhayal mendapat lelaki sempurna seperti Adam karena lelaki sempurna hanya ada dalam cerita.

  3. Cerpen yang menarik. Saya mengira tokoh Adam adalah seorang pria yang dicintai Rasty kemudian pria itu pergi sehingva membuat kondisi Rasty seperti itu. Tapi ternyata Adam adalah tokoh fiksi ciptaan Rasty sendiri yang terlalu Rasty kagumi sehingga Rasty menganggap bahwa Adam itu asli. Dengan alur seperti ini membuat pembaca penasaran dengan akhir ceritanya sehingga pembaca akan membaca cerita dari aaal hingga akhir.

    Muhammad Reza Firdaus

  4. Cerpen yang sangat bagus sekali. Saya tidak menyangka tokoh Adam adalah seorang pria yang dicintai Rasty kemudian pria itu meninggalkan sampai kondisi Rasty seperti orang tidak waras. Tapi ternyata Adam adalah tokoh fiksi ciptaan Rasty sendiri yang terlalu Rasty sukai. Sehingga Rasty menganggap Adam itu asli. Pembaca penasaran dengan akhir ceritanya sehingga pembaca akan membaca cerita dari pertama hingga akhir.

  5. Fahmi saputra says:

    Cerpen yang sangat menarik dan membuat penasaran, saya terkejut saat membaca cerpen tersebut karna tokoh Adam yang sampai membuat Rasty tidak waras hanyalah fiksi belaka , dengan alur seperti ini pembaca pun penasaran ingin membaca cerpen tersebut dari awal sampai akhir.

  6. Ceritanya sangat menarik. Saya seakan larut dalam cerita, tanpa memerdulikan yang terjadi di sekeliling saya. Cerita ini sangat berbeda. Saya tak menyangka jika Rasty itu benar-benar orang gila. Saya kira ia adalah orang normal. Karena biasanya, orang gila tak ada yang bisa sepuitis itu. Cerita ini juga mengajarkan saya agar saya tidak terlalu menyukai sesuatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s