Merah Putih di Amerika

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku sampai di Boston, Amerika Serikat. Di sana sudah ada kakak yang akan menjemputku menuju tempat tinggalnya yang terletak di belakang kampusnya. Tadinya aku pikir kalau kakak tinggal di asrama atau apartemen, tapi ketika ia menghentikan taksi di depan sebuah rumah sederhana, aku mengalihkan pikiranku kalau kakakku tinggal bersama teman-temannya dengan menyewa sebuah rumah. Rumah berwarna putih dengan pagar kayu di depannya, sangat khas rumah Amerika yang sering kulihat di film.

“Maaf berantakan,” ucap kakakku.

Aku langsung meninju pelan lengannya. “Ya, emang dari dulu kakak tidak pernah suka membersihkan rumah,” candaku.

Kakak tertawa. Dulu ayah menyuruhku memanggilnya abang. Kakak sempat menolak aku panggil dengan panggilan abang, katanya seperti sedang memanggil tukang bakso. Sementara ayahku tetap mempertahankan azas kesopanan dan unsur tradisional dengan menyuruhku untuk tidak memanggil namanya saja.

“Wah Doni, ternyata Tami sudah cantik ya.” Seorang laki-laki muncul sambil menggenggam segelas air.

“Masih ingat Steven?” bisik kakak.

Aku mengangguk. Aku akan selalu mengingat nama itu, Steven, teman SMP kakak. Bagiku dia adalah orang pertama yang harus kusalahkan atas kepindahan kakak ke Amerika. Kepindahan itu juga menyulut perselisihan antara kakak dan ayah.

       Di rumah ini, kakak tinggal dengan Steven dan dua mahasiswa lainnya. Satu dari Indonesia dan satunya lagi dari New Jersey. Tapi bagiku, Kellanz lebih terlihat Indonesia dibandingkan Amerikanya. Bahasa Indonesia yang digunakannya tidak terdengar aneh di telingaku, mungkin karena ia dikelilingi oleh orang Indonesia.

*****

Aku menagis tersedu-sedu melihat kakak yang sedang memasukan pakaiannya ke dalam koper besar. Sesekali ia melihatku yang duduk di lantai di sampingnya, kemudian mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. Tapi itu tidak menghentikan tangisku. Semakin histeris ketika ayah datang dan membentak kakak. Setelah ayah pergi, ibu datang memeluk kakak sambil menangis.

Tekad kakak memang sudah bulat untuk pindah sekolah ke Amerika bersama keluarga Steven. Rencananya ia akan sekolah SMA di daerah Massachusetts. Saat itu aku masih SMP dan tidak mengetahui apa pun mengenai Amerika kecuali film-film Hollywood-nya.

Aku dan kakak dibesarkan oleh keluarga atlet yang penuh dengan rasa nasionalisme. Ayahku seorang pemain sepakbola, sementara ibuku seorang atlet bulu tangkis yang hebat di zamannya. Makanya ayah selalu ingin anak-anaknya mengikuti jejak mereka menjadi seorang atlet. Ayah percaya kalau hanya atlet yang bisa membuat bendera merah putih berkibar di dunia internasional. Hanya atlet yang membuat semua orang yang memandang merah putih akan menaruh hormat pada simbol negara ini.

Jadi sejak kecil aku sudah dimasukkan ke dalam sekolah bulu tangkis. Aku menurutinya karena aku takut dengan sikap tegas ayahku, bukan karena minatku. Sementara kakak justru menolak dengan tegas. Ia lebih memilih untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter.

*****

Ternyata kakak melanjutkan kuliahnya di Universitas Harvard di Massachusetts. Kakak pernah mengajakku ke kampusnya. Dari rumah, kami harus berjalan kaki ke Tremont Street sebelum naik bus menuju Harvard Square sekitar tiga puluh menit. Setelah turun di Masachussets Ave, kami masih harus berjalan ke 17 Quincy Street.

Aku tersikap kaget melihat begitu luasnya universitas ini. Kakiku terasa membeku, tidak percaya kalau sekarang aku berada di universitas terbaik di dunia. Tubuhku seakan bisa menangkap aura kecerdasan dari setiap mahasiswa yang melewatiku. Aku yakin setelah mereka lulus maka Microsoft corp, BBC, Apple, dan perusahaan terkenal lainnya menanti tenaga mereka.

Setelah kakak menemui seorang profesor yang menjadi pembimbing skripsinya, kami duduk santai di taman dekat kampus itu. Kakak masih sibuk dengan buku-buku yang didapatnya dari profesor itu, sementara aku justru sibuk memperhatikan setiap orang yang lewat. Beberapa di antaranya mempunyai kulit sepertiku dan kakak, sawo matang, mungkin mereka orang Indonesia yang kuliah di sini. Karena yang kutahu memang banyak mahasiswa dari Indonesia yang kuliah di universitas di daerah Massachusetts. Daerah ini menurut kakak memang terkenal dengan banyaknya universitas terkemuka seperti Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology.

“Doni,” seorang laki-laki berteriak sambil duduk di samping kakak. Ia melirikku kemudian tersenyum memandang kakak.

“She is my sister, Tami.”

Laki-laki itu memandangku, tersenyum, kemudian menjulurkan tangannya. “Oh Tami. Iam Garrett.”

“Nice to meet you, Garrett,” ucapku sopan.

“Me too,” ia tersenyum memandangku sebelum melanjutkan ucapannya. “You’re so beautiful.”

Kusadari kalau mukaku pasti memerah dengan pujiannya. Namun sedikit memakluminya saat kakak mengatakan kalau orang Amerika memang tipe orang yang terbuka ketika berbicara, termasuk memuji.

“How about your project?” Garrett mengalihkan pandangannya ke kakak.

“I make mistake again,” kudengar suara kakak berubah sendu. “I think the substance in the red fruit is powerful enough to kill the Human Immunodeficiency Virus.” Kakak menunduk menatap buku yang di halamannya terbuka di hadapannya. Aku tahu matanya tidak memandang tulisan di buku itu. “But it was just able to increase endurance.”

“You have meet Professor Barley?” Kakak mengangguk.

“May be my  project must end,” untuk pertama kalinya aku mendengar kakak mengucapkan kalimat dengan rasa keputusasaan.

“Doni, listen,” kata Garrett tegas, membuat kakak memandang Garrett. “We all believe you’re smart, smarter than all HMS students.” Aku tidak mengerti dengan kata kami yang dimaksudnya, jadi aku hanya tetap diam dan mendengarkan.

“Iam smart, smarter than all HMS students, smarter than all Indonesian people, but I have failed to make this project,” suara kakak terdengar seperti mengejek diri sendiri. Setelah itu terjadilah perdebatan kecil di antara mereka. Aku tidak terlalu mengerti kalimat yang mereka ucapkan karena dipenuhi istilah-istilah asing.

Kami akhirnya kembali ke rumah dengan sikap diam kakak sepanjang perjalanan. Bahkan ketika sampai di rumah, ia langsung mendekam sepanjang hari di kamarnya, yang kini kutempati, sekaligus tempat semua perlengkapan kuliahnya berada. Ia terus berkutat di depan laptop dan sesekali membuka-buka buku yang tadi didapatnya dari profesor. Aku hanya bisa memandangnya dari tempat tidur.

Kakak seperti bukan kakakku selama ini. Ucapannya tadi siang di taman dengan Garrett mengisyaratkan kalau sedang putus asa. Aku sendiri tidak tahu seberapa besarnya kegagalan proyeknya hingga membuat kakak yang selama ini selalu percaya diri dengan kemampuannya menjadi putus asa. Aku ingat, kakakku tidak pernah mengatakan kata ingin pada setiap keinginannya, tapi menggantinya dengan kata harus. Kakak tidak pernah mengatakan kalau ia ingin menjadi seorang dokter tapi ia harus menjadi seorang dokter. Dan setiap kata harus yang diucapkannya tidak pernah meleset.

Esok harinya saat Steven mengajakku jalan-jalan ke Franklin Park, aku mengetahui kalau proyek kakak nantinya akan sangat berguna bagi banyak manusia di dunia. Itu yang menyebabkan ia menjadi sedikit putus asa pada kegagalannya.

*****

Sejak pindah ke Massachusetts, keinginan Doni untuk menjadi seorang dokter bertambah besar. Sepulang sekolah, ia selalu berdiam diri di depan Massachusetts Institute of Technology, memandang kagum institut itu kemudian akan mengucapkan, “aku harus masuk MIT.” Terkadang kalau sedang beruntung, Doni sering bertemu dengan beberapa mahasiswa MIT dan berbincang-bincang. Hingga akhirnya ia berkenalan dengan Mathay, mahasiswa biologi MIT dari Jerman. Mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol tentang dunia biologi. Melalui Mathay, Doni diperkenalkan pada Vladimir, mahasiswa MIT dari Rumania, Garrett, dan Paul.

Setelah Mathay, Vladimir dan Paul lulus dan melanjutkan ke Oxford, dan Cambridge di Inggris, praktis tinggal menyisakan Garrett. Garrett juga yang membuat Doni tidak jadi kuliah di MIT. Alasannya karena fakultas kedokteran terbaik di dunia bukan berada di Harvard.

Doni diterima kuliah di Harvard dengan beasiswa dari Kedutaan Besar Indonesia di Amerika. Selain biaya kuliah sebesar US$ 45.000 pertahun, Doni juga mendapatkan  biaya hidup dan asuransi sebesar US$ 26.700. Tapi itu tidak cukup untuk biaya penelitiannya, karena seringkali ia harus pergi ke berbagai negara untuk melakukan riset. Sementara ia tidak akan mau meminta uang dari ayahnya. Makanya Doni juga bekerja paruh waktu di restoran, kafe, hotel dan terakhir sebagai asisten profesor. Bahkan ketika musim panas dan liburan musim dingin, Doni lebih memilih bekerja sepanjang waktu daripada liburan.

Setahun yang lalu, Doni datang ke Indonesia, tapi tidak datang ke rumahnya. Ia ke Indonesia untuk melakukan penelitian di Papua. Sengaja ia tidak menemui keluarganya karena sejak memutuskan pindah, ia bersumpah akan kembali kalau ia berhasil memenuhi keinginan ayahnya, membuat merah putih berkibar di dunia internasional.

Ia memfokuskan diri untuk melakukan penelitian di bidang kesehatan manusia setelah berkenalan dengan Satcher, mahasiswa Health Sciences and Technology, yang merupakan program kerja sama antara Harvard dan MIT. Ia meneliti untuk menemukan obat penyakit AIDS. Berusaha untuk menyelamatkan banyak nyawa di dunia dengan penelitiannya.

*****

“Tami, kamu tahu, kalau Doni adalah manusia terhebat yang pernah kukenal,” kata Steven mengakhiri ceritanya.

“Kakak bukan hanya hebat, tapi juga luar biasa.”

Sebelum pulang, ia mengajakku untuk menikmati pizza di Grand Ave yang masih di dalam kawasan Franklin Park. Inilah pizza yang rasanya sangat Amerika. Setelah itu, kami yang ke sini menggunakan sepeda, berjalan dengan jalan yang berbeda dari perjalanan datang, dan memakan waktu lebih lama. Tidak melewati Jackson Square lagi tapi melewati taman Girl in the Glass. Di taman itu, aku berhenti sejenak untuk melihat keindahan patung seorang wanita yang berada di dalam kaca.

Ketika sampai di Longwood Avenue, Steven ditelepon oleh Kellanz kalau kakak masuk rumah sakit. Secepat mungkin kami langsung berbelok menuju rumah sakit. Di salah satu ruangan, aku melihat kakak sedang duduk di atas ranjang dengan infus di tangannya.

“Sudah jangan nagis,” kata kakak mengelus rambutku. Ketika sampai, aku langsung memeluk kakak.

“Kakak sakit apa?” Aku menatap Kellanz, tapi ia melirik kakak, seolah meminta izinya. “Jawab!”

“Dia dehidrasi dan kecapekan.”

Mataku langsung beralih memelototi kakak. “Sudah berapa hari tidak makan dan tidur?”

“Tiga bulan yang lalu, sejak proyeknya mengalami kegagalan,” Steven justru yang menjawab.

Kakak akhirnya harus dirawat selama sehari, itu pun setelah aku memaksanya. Hari itu aku yang menginap di rumah sakit untuk menunggunya, meskipun tadinya ia melarang.

“Kakak, kenapa tidak bilang sama ayah kalau kakak butuh uang banyak?” tanyaku ketika ia pulang.

“Kamu tahu dari Steven?”

“Kakak belum jawab pertanyaanku.”

“Aku sudah janji sama diriku sendiri kalau aku tidak akan pernah minta bantuan ayah. Aku ingin membuktikan sama ayah kalau keberhasilanku adalah dari hasil kerja kerasku.”

“Tapi minimal kakak bilang sama aku.”

Kakak menatapku kemudian tertawa. “Emangnya kamu punya duit?”

Aku mengangguk. “Memang tidak banyak, tapi, kan lumayan bisa buat nambahkan beli tiket pesawat.”

Ia tersenyum lagi kemudian mengelus rambutku. “Tidak usah, lebih baik duitnya kamu tabung buat shopping.”

“Aku tidak suka shopping,” kataku menggerutu. Kakak justru menarikku ke dalam pelukannya. Bisa kurasakan tubuh hangat kakak di pipiku.

“Mungkin ayah, ibu, dan kamu berpikir aku bukan orang yang nasionalis. Aku memikirkan diriku sendiri dan tidak mencintai negeriku.”

“Aku tidak pernah berpikir kayak gitu,” kataku protes sambil mendongkakan kepalaku.

Kakak kembali menarikku untuk memeluknya. “Untuk menjadi orang yang nasionalisme yang bisa mengharumkan nama Indonesia tidak harus jadi atlet. Karena percuma menjadi atlet tapi tidak punya prestasi apa-apa dan hanya bisa menghabiskan uang anggaran yang berasal dari pajak rakyat. Pekerjaan apa pun yang kita kerjakan, asal bisa memiliki prestasi tentu secara tidak langsung akan membuat nama Indonesia terkenal di dunia. Dan itu akan membuat orang Indonesia lainnya bangga dengan negaranya sendiri. Jadi yang terpenting bukan pekerjaan apa, tapi prestasi apa yang bisa kita capai dari pekerjaan itu.”

*****

Dua tahun setelah itu, aku kembali datang ke Amerika. Bukan ke Boston dan tidak sendirian, tapi ke Washington DC dan bersama kedua orangtuaku. Kami datang menuju Washington karena mendapat undangan dari Kedutaan Indonesia di Amerika. Bahkan kami juga mendapat tiket pesawat VIP dan penjemputan khusus di bandara.

Esok pagi di Washington Hall, aku berdiri di samping kiri ayah, sementara ibu ada di samping kanan ayah. Di belakang sudah banyak kamera televisi dari kantor-kantor berita di dunia, Antara, BBC, CBC, CNN. Semua kamera itu fokus menyorot sesosok lelaki muda yang memakai kemeja batik lengan panjang di depan. Itu kakak, ia berdiri menghadap kami dengan tatapan memandang ke ayah, lalu tersenyum dan dibalas senyuman oleh ayah. Kulihat ayah langsung berdiri kaku, tangan kanannya terangkat dengan ujung jari telunjuknya diletakan di samping keningnya. Ayah sedang melakukan gerakan hormat. Di depan, bendera merah putih ukuran besar sedang berkibar dengan gagahnya. Bahkan kini semua orang langsung melakukan gerakan hormat, termasuk diriku. Kemudian suara merdu terdengar begitu syahdu di telinga, lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Bagiku ayah adalah sosok lelaki tegar dan kuat, tapi kini untuk pertama kalinya ayah menangis. Tetesan air mata jatuh dari mata yang selalu mengisyaratkan kekuatan itu. Meskipun ia tetap menatap bendera yang pernah dibuatnya berkibar di Kairo, Mesir. Aku tahu kalau bendera ini sangat berarti bagi hidup ayah. Karena untuk mengibarkan bendera ini dan membuat jutaan pasang mata melihatnya dibutuhkan kerja keras. Bahkan tidak hanya itu, tapi juga harus bisa merelakan waktu.

Dan kakak berhasil. Ia telah bekerja keras, melakukan penelitian yang menghabiskan waktu dan materi. Kakak merelakan masa mudanya untuk bersenang-senang demi bendera ini. Ia membaca dan mencoba demi sebuah keberhasilan. Dan ini ia persembahkan untuk semua warga Indonesia agar selalu bangga pada bendera kebangsaan.

Kakak selalu benar karena ia percaya dengan kebenaran ucapannya. Bahwa nasionalisme bukan terletak pada jenis pekerjaannya tapi pada prestasinya. Dengan prestasi akan membuat orang lain bangga pada negaranya sendiri. Kakak membuatku bangga dengan Indonesia.

Aku sudah sering mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang mengiringi pengibaran bendera merah putih. Tapi baru kali ini tubuhku bereaksi, bulu disekujur tubuhku berdiri merasakan hal itu. Dan itu membuatku ingin berteriak dengan keras, “lihat ke depan! Bendera merah putih yang sedang berkibar adalah bendera negaraku, Indonesia.”

*****

Kakak tidak pernah bisa menemukan obat untuk membunuh AIDS. Tapi ia tetap mendapatkan nobel kesehatan dari dunia internasional. Sebelum penyerahan nobel yang dilakukan oleh Dr. Peter Jacklyn, seorang tokoh kesehatan dunia, kakak meminta dikibarkan bendera merah putih sekaligus dengan iringan lagu Indonesia Raya. Kakak tahu kalau kejadian itu direkam oleh dunia internasional, makanya ia melakukan itu.

Dedikasi kakak adalah bagaimana ia dapat membuat obat bagi penderita AIDS. Ia membuat regimen obat yang dapat mengubah sel AIDS ke penyakit lain yang sebelumnya sudah ditemukan obatnya. Obat itu ia ciptakan dengan menggunakan buah merah sebagai bahan utamanya. Ia tidak gagal dengan buah merah itu. Ia hanya memerlukan sedikit tambahan waktu untuk penelitiannya.

Hal ini didapatnya justru ketika kakak sedang membaca santai di Boston Nature Centre and Wildlife Sanctuary. Saat itu ia melihat dua orang anak yang sedang memakan apel dan jus apel. Kemudian ide mengubah penyakit AIDS muncul begitu saja dipikirannya.

Langsung saja ia mulai menghabiskan waktunya di dalam kamar dan perpustakaan. Bahkan kakak sampai harus pergi ke British Museum di Great Russel Street, London untuk menyempurnakan penelitiannya. Profesor Barley yang menjadi profesor pembimbing tesisnya menjadi orang pertama yang ia beritahu mengenai hasil penelitiannya. Beliau sempat kaget dengan hasil penelitian kakak. Karena sebelumnya MIT pernah mengajukan penelitian ini, bahkan beberapa peneliti HST juga pernah merancangannya juga. Tapi itu hanya rancangan tanpa pernah dilakukan. Mereka sudah merasa pesimis sebelum mencobanya. Padahal menurut kakak, penelitian ini jauh lebih sederhana dibandingkan dengan penelitian mengenai virus kanker otak yang dulu ditelitinya.

Lama setelah kejadian itu, aku masih sering mendengar nama kakak sering disebut-sebut dalam perkembangan dunia kesehatan. Bahkan setelah lama kakak meninggal, namanya masih tetap hidup. Universitas Harvard adalah saksinya, di salah satu ruangan kedua tempat itu terpasang foto kakak dengan merah putih di atasnya. Menandakan kalau orang yang telah berjasa itu adalah orang Indonesia.

*****

Di sudut kampus, 20 Mei 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s