Manado dalam Namamu

Namanya Manado. Letaknya di Pulau Sulawesi bagian utara. Ia resmi menjadi kotamadya sejak 1965. Kota ini, yang sejak 2007, kamu perkenalkan pada aku. Di sepanjang perjalanan menuju jalan protokol, kamu ucapkan kata itu berkali-kali pada saya. Hingga akhirnya, saya menemukan kata itu dari suaramu yang menggema mesra di telinga.
Saya ingat betul perjumpaan kita di awal 2007. Kamu dan senyummu menyapaku di pinggir jalan protokol, jalan penghubung dua kotamadya Jakarta. Awalnya, aku hanya mengingat senyummu. Nyatanya, kita lebih dari sekadar senyum. Kamu dan aku yang terangkai dalam kita.
Setelahnya, aku pikir hanya tentang kamu dan aku. Nyatanya, ada jarak yang menghubungkan kita, Manado.
Dulu, kamu selalu katakan pada aku, keputusan terburuk yang kamu lakukan adalah pindah ke Jakarta. Kamu benci kota aku. Kamu marah dengan kondisi kota ini. Kamu sesak menghirup udara yang mengotori paru-parumu di sini. Namun, kamu senang bertemu aku. Kamu bahagia menghabiskan waktu bersamaku. Kamu sehat melihat senyumku. Karena bencinya kamu dengan kota ini berbalik dengan bahagianya kamu dan aku. Kami-aku dan Jakarta-dihubungkan oleh Manado.
Aku rindu dengan Manado. Begitulah yang terucap dari mulutmu saat pagi kita bertemu. Kamu selalu rindu setiap kali papamu menelepon dari Manado. Saat papamu mengatakan baru saja pergi ke Bunaken, makan mie cakalang, atau sekadar duduk di pelataran rumah kalian. Namun, kamu enggan setiap kali saya menyuruhmu kembali ke Manado. Nanti di sana, bakal rindu kamu.
Kamu memiliki cara untuk mengobati rindumu yang sedang menggebu. Kamu ajak aku makan di restoran Manado, namanya Dapur Manado. Di restoran dekat SD itu, kamu perkenalkan aku pada sesuatu yang belum pernah aku coba. Bubur Manado, kamu tawarkan itu padaku. Terasa sedikit aneh saat pertama kali melihatnya. Campuran nasi dengan sayuran hijau terasa menggigit di lidah. Itu pertama kalinya aku makan makanan Manado yang dimasak orang Manado asli di Jakarta.
Menjelang sore, sembari mendengaran gericik kolam ikan, kamu kenalkanku  pada kota itu. Kamu bilang, itu tempat kamu pertama kali membuka mata. Tempat pertama kamu menghirup udara setelah keluar dari dinding rahim perempuan yang kelak kamu sebut Mama. Manado adalah tempat kamu melakukan sesuatu pertama kali.
Tapi, pertama kali aku jatuh cinta di Jakarta.
Kalimat itu selalu membuat aku teringat dengan gadis itu. Wajahnya yang selalu membias di matamu.
Waktu itu, kamu bercerita tentang pantai yang begitu indah di Manado, Bunaken. Di sana, kamu biasa menghabiskan akhir pekan. Menyelam bersama ikan-ikan atau sekadar berjalan di sepanjang pasir sambil merasakan gelombang udara menyentuh kulit putihmu. Kamu bilang pada kawanmu, suatu saat kamu akan mengajak perempuanmu ke sana. Setelah di Jakarta, wajah dia yang ada dalam pikiranmu. Dan, tidak pernah berubah.
Katamu, diriku yang berdiri di kolong itu mempesona. Aku pikir, kamu akan menggunakan kata sexy, tapi tidak mungkin diucapkan oleh bibirmu yang sopan. kamu berpikir kita akan menjadi sahabat yang menyenangkan. Menurutku, melihatmu mengendarai motor di tikungan dengan senyum itu sangat menenangkan. Akhirnya, sebuah kota di ujung Sulawesi yang mempertemukan kita. Beberapa waktu, kamu katakan kalau di pikiranmu saat itu adalah ucapanmu untuk mengajak seorang perempuan ke Bunaken. Dan, itu tidak pernah terwujud sampai saat ini.

*****

Sekarang sudah 2016, hampir sepuluh tahun dari pertemuan pertama kita. Yang tersisa dari kamu hanya gambaran kata Manado. Entah, setiap kali mendengar kata Manado, yang ada dalam benakku, bukan pantai, tapi wajahmu. Kulit putih pucatmu, rambut yang selalu bergoyang, dan matamu saat menatapku sambir bercerita. Ah, begitu sulit melupakanmu sejenak. Mungkin Tuhan ingin menangih janji kita. Tentang kebersamaan yang kita retas di masa lampau. Nyatanya, sampai saat ini, aku masih mogok untuk mewujudkannya.
Nanti, aku janji pada diri sendiri. Aku benar-benar berjanji, kalau aku akan ke Manado. Aku ingin membuktikan ucapanmu. Aku ingin melihat kota yang bagimu spesial.
Suatu saat, aku akan menyusulmu ke Manado meskipun tidak akan pernah bertemu kamu.
Kamu, tunggulah aku meskipun kita tidak akan pernah bertatap wajah.

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s