Aku, Kamu, dan Cinta Kita

“Maukah kamu memilih untuk jatuh cinta pada siapa?”

Pertanyaan itu kamu lontarkan di suatu waktu. Langsung saja aku menganggukkan kepala seraya berkaya, “Ya.” Hal inilah yang lama kuimpikan, memilih seseorang untuk jatuh cinta. Hanya saja, apakah mungkin? Rasa cinta adalah sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Perasaan itu muncul begitu saja. Bahkan, terkadang tanpa diiringi alasan.

Soejiwo Tedjo pernah mengatakan jika jatuh cinta adalah takdir dan menikah adalah nasib. Kita dapat memilih untuk menikah dengan siapa tapi tidak dapat memilih untuk jatuh cinta dengan siapa. Pernikahan disahkan negara lewat buku nikah, sedangkan jatuh cinta tidak. Tidak ada negara yang mengatur urusan jatuh cinta warganya.

Pertama kali merasakan jatuh cinta, aku lupa dengan siapa dan kapan. Mungkin beberapa tahun lalu saat masih berseragam putih abu-abu. Atau bahkan, saat belum lancar membaca. Entahlah. Hingga saat ini pun, aku lupa sudah berapa kali jatuh cinta. Aku lupa berapa kali jantung ini berdetak keras setiap kali berdekatan dengan laki-laki.

Sewaktu SMP, aku pernah jatuh cinta pada teman sekelas. Laki-laki yang peringkatnya selalu di atasku-aku selalu mentok di 10 besar. Tapi, aku tidak pernah memimpikan sebuah pernikahan dengannya. Cinta itu bertahan tanpa pernah ada kata cinta yang terucap. Namun, begitu keluar gerbang sekolah, rasa itu memudar begitu saja.

Di jenjang berikutnya, aku juga dihampiri rasa itu. Bedanya, ada beberapa cinta yang aku rasakan. Cinta dengan teman seangkatan, organisasi, hingga kakak kelas. Namun, aku juga tidak pernah memimpikan untuk menjalani rumah tangga dengan salah satu dari mereka.

Ah, cinta memang rumit.

Dan kamu? Aku hanya pernah mendengar satu perempuan terucap dari bibirmu. Sejak kita bertemu di awal 2008 hingga menjelang akhir 2016. Kamu tidak pernah mengucapkan nama lain. Hanya satu, yaitu dia.

Apakah kamu pernah memilih untuk jatuh cinta padanya? Tentu saja tidak.

Kamu katakan jika cinta datang begitu saja saat kamu melihat wajahnya.

Mendengar suaranya yang bersenda gurau dengan sepupumu membuat dadamu bergejolak. Rasa cinta itu tumbuh dalam hatimu. Rasanya seperti dahaga yang diisi air saat mendengar suaranya, melihat wajahnya, dan menghirup aromanya.

Pernahkan kamu memimpikannya? Kamu mengatakan jika malam-malammu diisi dengan wajah di alam bawah sadarmu. Kamu melihatnya menggunakan kebaya. Kamu merasakan tanganmu memasukkan cincin ke jari manisnya. Kamu yang sesekali mengecup bibirnya ranumnya. Kamu yang begitu bahagia merasakan tentangan pertama buah hati kalian. Kamu yang menangis haru saat dari rahimnya keluar miniatur dirimu. Kamu yang merasa hangat saat jari-jari kalian saling menggenggam meskipun telah mengerut.

Tapi, pernahkah dia tahu perasaanmu?

Kamu menggeleng. Delapan tahun kamu tutupi perasaan itu. bahkan untuk sekadar kamu lampiaskan pada sikapumu pun begitu sulit.

“Kamu tahu, aku terlalu takut menyatakan cinta padanya.”

“Kamu takut ditolak?”

“Aku takut jika cinta ini melukainya. Aku sangat mencintainya, teramat cinta. Sebesar apa pun mimpiku untuk memilikinya, tidak sebanding dengan besar rasa ingin melihatnya bahagia. Aku terobsesi melihatnya tersenyum.

Ah, aku, kamu, dan cinta yang belum berujung.

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s