Kapan Ingin Menjadi Guru?

Jakarta, 22 Desember 2016

 

Sekitar dua belas tahun lalu-saat masih duduk di bangku SMP-saya terpikir ingin menjadi seorang guru. Alasannya hanya satu, saya begitu suka cara mengajar guru bahasa Indonesia saya di waktu SMP. Beliau begitu kuwes dalam mengajar meskipun tanpa menggunakan teknologi. Saat di kelas dua, guru saya seorang perempuan berusia sekitar 40 tahunan. Beliau mengajarkan-yang sampai sekarang saya ingat-jika sebuah paragraf memerlukan lebih dari satu kalimat. Itu berarti satu buah titik. Setiap kali kami-siswanya-membuat satu paragraph yang panjangnya bias melebihi lima baris dan menggunakan satu buah titik, beliau akan bertanya.

Katanya, “Apa guna tanda titik?”

Kami akan menjawab, “untuk berhenti, Bu.”

“Kalau berhenti, ngapain?”

“Napas.”

“Kalau tidak ada tanda titik?”

“Berarti enggak napas, Bu.”

“Kalau enggak napas?”

Dan, kami tidak pernah bias menjawab pertanyaan itu. Penggunaan tanda titik di setiap kalimat ternyata memiliki makna tersendiri. Saat itu saya sadar, kalau memang tanda titik tidak sekadar untuk menghentikan kalimat.

Pernah suatu waktu, ada seorang teman yang membuat paragraph tanpa tanda titik. Guru saya membacanya di depan kelas dan betul-betul mempraktikkan tanpa berhenti. Di pertengahan membaca catatan teman, beliau berkata dengan sedikit berteriak. “Ibu bias meninggal kalau baca tulisan ini.”

Dalam setiap catatan atau latihan bahasa Indonesia beliau selalu melingkari kalimat atau kata yang salah dengan menggunakan pulpen merah. Biasanya setelah dibagikan, beliau akan menjelaskan bagaimana seharusnya kami menulis. Beliau mengajarkan jika sebuah tulisan bahasa Indonesia tidak hanya sekadar panjang, tapi juga memiliki tanda baca yang tepat.

Sedangkan di kelas tiga SMP, guru bahasa Indonesia saya adalah seorang laki-laki yang usinya mungkin sebaya dengan guru sewaktu kelas dua. Beliau mengajarkan kepada saya jika bahasa Indonesia tidak sekadar mengerjakan latihan di buku. Waktu itu saya sering kali mendapat tugas yang bagi saya cukup menyenangkan. Beliau pernah meminta membuat sebuah observasi tempat umum. Saat itu, saya mengobservasi taman di dekat Masjid Sunda Kelapa. Di sana, saya belajar untuk membuat orang lain merasakan apa yang saya rasakan lewat tulisan. Saya membuat deskripsi yang semirip mungkin hingga teman-teman yang membacanya dapat menggambarkan lewat imajinasi mereka tentang taman tersebut.

Beliau pernah mengajarkan praktik berbicara, yaitu menjadi pembawa acara. Saat itu kami diminta menjadi pembaca acara apa pun. Acaranya boleh buat sendiri atau imajinasi, atau meniru dari acar televise. Saat itu, saya sedang tergila-gila menonton pertandingan olahraga. Jadi, sata putuskan menjadi pembawa acara berita olahraga. Saya meniru Sabrina Kono-maaf kalau salah penyebutan nama. Dia sekarang menjadi istri dari penyanyi Rio Febrian. Saat itu dia menjadi pembawa acara berita olahraga di stasiun ANTV saat pagi. Sebelum berangkat sekolah, saya melihat bagaimana gayanya memandu acara dan menyampaikan berita kekalahan dan kemenangan sebuah tim. Merasa puas dengan observasi, saya percaya diri ketika mengambil nilai.

Sesuatu yang melekat-yang menjadi kenang-kenangan yang diberikan guru bahasa Indonesia-dalam diri saya adalah panggilan yang diberikan teman-teman setelah itu. Entah bagaimana cerita selanjutnya, saya lupa, Bapak guru mengatakan jika saya pintar berbicara di depan sehingga nanti cocok menjadi Ibu RT. Maka, sampai kelulusan, teman-teman lebih suka memanggil saya dengan sebutan Ibu RT ketimbang nama saya sendiri.

Dua guru itu yang membuat saya begitu menikmati belajar bahasa Indonesia. Sampai saya merasa puas meraih nilai UN bahasa Indonesia 9,20. Itu nilai murni-saya tidak menyontek kepada siapa pun. Bukan nilai tertinggi di SMP, tapi membuat saya yakin jika bahasa Indonesialah yang menjadi bakat saya.

Setelah lewat dua belas tahun, saya percaya jika kedua guru tersebutlah yang mejadi awal mimpi ini, menjadi guru bahasa Indonesia.

*****

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s