Mengenalkan Sastrawan dan Karyanya

Jakarta, 24 Januari 2017

Waktu kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, awalnya saya hanya berpikir jika mata kuliah yang akan saya pelajari hanya mengenai bahasa. Tentang verba, nomina, kalimat, dan majas. Nyatanya, ada sesuatu yang jauh lebih menarik dari itu semua. Sesuatu yang membuat saya tidak hanya mempelajari terkait bahasa, tetapi juga membuat saya berpikir kritis, yaitu sastra. Dari semester satu, saya sering mencoba membaca buku-buku sastra yang direkomendasikan dosen. Mulanya hanya mengenai Chairil Anwar dan puisi Aku menjadi mengenal sosok Hamka, Pramoedya, hingga Marriana Katopo. Sastra bukan sekadar cerita fantasia tau romantisme tetapi juga sejarah. Ini yang membuat saya merasa jika membaca sastra, bukan hanya memperkaya kosa kata tetapi juga pengetahuan umum, khususnya sejarah.

Saat terjun di dunia mengajar, ternyata yang selama ini saya alami juga dialami oleh anak-anak zaman sekarang. Kami sama-sama buta akan karya sastra dan sastrawan. Sama-sama hanya mengenal Chairil Anwar dan puisinya Aku-itu pun hanya hapal larik “Aku ini binatang jalang”. Maka dari itu, saya ingin siswa saya lebih dari gurunya di masa lalu. Saya ingin mengenalkan karya sastra pada mereka. Saya ingin mereka mengetahui jika Indonesia memiliki kekayaan budaya tulisan. Saya ingin mereka mengenal sejarah bangsanya sendiri.

Memperkenalkan sastra ke dalam pelajaran agak sulit dilakukan. Menggunakan kurikulum 2013 edisi non-revisi, saya sering kesulitan untuk mencampurkan dengan sastra. Apalagi di bab cerpen di kelas sebelas, di buku paket bahasa Indonesia, saya tidak menemukan sastrawan-sastrawan yang saya pelajari di bangku kuliah. Kalau hanya bercerita mengenai karya sastra dan sastrawan sudah sering saya lakukan. Tapi, membuat mereka mau membaca karya sastra, begitu sulit. Alasannya, bahasanya sulit dipahami dan anak menjadi bosan karena tidak mengerti.

Sejak pertama kali mengajar, saya memang memiliki tugas pokok di seluruh kelas yang saya ampuh, membaca buku. Dalam satu semester, saya mewajibkan membaca buku minimal 3. Apalagi, sekolah saya memiliki kegiatan literasi, 15 menit setelah istirahat. Anak-anak saya bebaskan untuk membaca buku apa pun, asal bukan komik. Setelah membaca buku, mereka akan membuat synopsis dan berkomentar terhadap buku tersebut. Jadi, bagian ini yang menjadi strategi saya untuk memperkenalkan karya sastra pada anak.

Awal Februari sampai April, siswa mengikuti kegiatan PKL (Praktik Kerja Lapangan). Artinya siswa terjun langsung di perusahaan. Selama tiga bulan, mereka tidak akan mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Saya memberikan tugas pada mereka untuk membaca sebuah karya sastra. Untuk mempermudah, saya sudah membuat daftar 32 nama sastrawan beserta karyanya. Siswa hanya perlu memiliki satu untuk dibaca kemudian membuat synopsis dan berkomentar seperti biasa. Saya menjelaskan, jika mereka menemukan karya sastra di luar yang saya sebutkan, asal sastrawannya termasuk, diperbolehkan. Karena, saya menyadari jika saya tidak mungkin menulis semua karya sastra Indonesia yang jumlahnya bisa ribuan.

Saya berharap jika selepas PKL nanti, mereka benar-benar membacanya. Saya ingin mereka bangga dengan karya sastra yang ditulis anak bangsa.

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s