Ulang Tahun Bersama

Jakarta, 06 Februari 2017

Kata orang, menjadi guru itu menyenangkan. Bukan tentang materi yang didapat, tapi rasa bahagia yang sulit digantikan dengan materi. Ini saya alami pada Senin ini. Hari ini, jadwal saya untuk mengantar siswa-siswa PKL (Praktik Kerja Lapangan). Tugas ini sebenarnya dilakukan di awal Februari, yaitu tanggal satu yang jatuh pada Rabu minggu lalu. Namun, anak-anak PKL binaan saya, baru memulai kegiatan di perusahaannya Kamis, sedang pada hari itu hingga Jumat, saya tidak enak badan dan tidak masuk sekolah

Siswa-siswa yang saya antar PKL adalah kelas sebelas administrasi perkantoran. Jumlahnya lima orang yang semuanya perempuan. Jujur, saya merasa tidak akrab dengan mereka. Maksudnya hubungan saya dan mereka hanya sebatas hubungan guru dan murid. Interaksi di antara kami juga hanya sebatas urusan sekolah-materi pelajaran. Tidak seperti beberapa murid yang suka mengobrol dan bercerita, mereka adalah siswa biasa.

Mengunjungi tempat PKL mereka di sebuah badan koperasi sebuah bank besar saya lakukan pada hari ini. Saya bertemu dengan pimpinan, serah terima siswa, dan sedikit mengobrol. Namun, saat akan pulang, pimpinan perusahaan itu menahan saya. Dikatakannya jika anak-anak ingin bertemu saya dahulu. Saya pikir hanya sebatas pamit. Tapi, di luar dugaan, mereka muncul dengan membawa sebuah kue ulang tahun. Mereka menghampiri saya sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Memang, Minggu adalah hari ulang tahun saya. Hanya saja, saya tidak menyangkan mereka melakukan ini semua.

“Bu, ini adalah bukti cinta anak-anak sama gurunya.” Begitulah ucapan pimpinan itu pada saya. Begitukah? Saya hanya merasa mengajar itu seperti pekerjaan lainnya. Saya bekerja dan mendapat gaji. Anak-anak menganggap saya sebagai seseorang yang mengajari mereka untuk mendapatkan ilmu. Itu anggapan saya pada mereka. Saya tidak menyangka jika mereka sampai mau sebegitu repotnya merayakan ulang tahun gurunya. Guru yang sering marah di kelas mereka. Guru yang merasa tidak akrab dengan siswanya sendiri. Guru yang merasa jauh dengan siswanya sendiri.

Ah, rasanya-rasanya saya malu dengan diri ini. Betapa saya sudah berpikir jauh tentang siswa saya sendiri. Saya tidak menyadari jika mereka begitu peduli dengan hari ulang tahun gurunya. Mau repot membeli kue dan merayakan dengan sederhana.

Semuanya, terima kasih. Terima kasih sudah mengingat hari kelahiran guru kalian yang galak dan cuek ini.

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s