Melawan Plagiat

18 Februari 2017

 

Teknologi dibuat untuk memudahkan pekerjaan manusia. Sesuatu yang lama menjadi cepat. Namun, saat ini ia ibarat dua mata pisau. Saya akui, jika kebanyakan pelajar saat ini menggunakan teknologi bukan sekadar memudahkan pekerjaan mereka tapi juga membodohi.

Saya memiliki kegiatan khusus dalam pelajaran bahasa Indonesia. Dalam satu semester, anak-anak diwajibkan membaca tiga buah buku bacaan. Buku jenis apa pun boleh dibaca asal bukan komik, kitab suci, dan buku pelajaran. Karena, dua buku terakhir merupakan buku wajib mereka.

Selepas membaca, mereka diharuskan membuat sinopsis dan komentar pribadi. Tidak ada batas minimal. Saya benar-benar membebaskan kreativitas anak. Saya ingin anak-anak saya bebas bereksperimen dalam menulis hingga akhirnya saya dapat menemukan kelebihan mereka.

Saat waktu pengumpulan yang berjarak 1,5 bulan di setiap buku, saya bisa memanggil anak satu persatu. Saya mengoreksi langsung di depan anak dan memberikan koreksi serta penjelasannya. Cara ini saya anggap lebih efektif. Pertama, dengan pendekatan individu, anak cenderung lebih memahami kesalahannya dan tidak akan mengulanginya di tugas berikutnya. Kedua, memudahkan saya menghapal anak dan mengetahui kelebihan dan kekurangannya dalam keterampilan menulis.

Masalah yang sering saya jumpai dalam mengoreksi adalah plagiatisme. Mereka cenderung mencari jalan cepat dalam mengerjakan tugas, yaitu menyalin dari internet. Mereka tinggal mengetik kunci “Sinopsis buku bla bla bla”, dan langsung disuguhkan dengan banyak hasil.

Cara menentukan apakah mereka memplagiat adalah dengan membandingkan. Ada dua bagian tugas, sinopsis dan komentar. Mereka cenderung menyontek di bagian sinopsis karenya porsinya lebih banyak. Di bagian komentar, mereka hanya membuat tiga sampai lima kalimat atau satu paragraf. Saya membandingkan kedua gaya tulisan tersebut. Biasanya di bagian sinopsis, diksi dan tanda baca yang digunakan bagus dan pas. Tetapi, memasuki komentar, saya hanya menemukan satu tanda titik, di akhir paragraf. Bila anak tidak mengaku, saya tinggal menyodorkan hasil search di Mbah Google. Namun, mereka masih mencari cara lain. Mereka mengopi satu sinopsis dari berbagai website dan blog. Atau, mereka menggabungkan satu paragraph hasil plagiat dengan satu kalimat buatan sendiri. Sehingga, saat ditanya, mereka akan menjawab ini buatan sendiri. Padahal, buatan sendiri hanya tiga kalimat berbanding 3 paragraf. Cara ini saya tanggis dengan menunjukan bagian mana tulisan mereka dan yang dari internet. Ketiga cara ini cukup efektif untuk meminimalisir plagiat di kalangan pelajar.

Saya sering miris melihat kondisi seperti itu. Pelajar saat ini lebih mengutamakan hasil ketimbang proses. Meskipun mereka tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena masyarakat juga berpikir demikian. Saya sering meyakinkan mereka jika saya lebih mengedepankan proses. Saya berikan nilai paling sedikit delapan bagi mereka yang mampu membuat sinopsis sendiri. Seberantakan apa pun EYD dan diksinya. Sedangkan untuk yang memplagiat, saya bukan sekadar member nilai jelek, tapi saya tidak mau memberi nilai. Saya akan langsung kembalikan tanpa goresan angka di kertas tugas mereka. Saya ingin mereka menikmati proses belajar hingga mendapat kepuasan dari hasilnya.

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s